Gunung Api dan Manfaat Disektor Pertanian Pala

  • 25 Mar 2026 10:28 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif. Jumlah itu menjadikan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Gunung berapi tersebar di sepanjang zona subduksi, meliputi Sumatra, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku, yang dikenal sebagai bagian dari Ring of Fire. Kementerian ESDM menyebutkan dari 38 provinsi di Indonesia, setidaknya 5–7 gunung api aktif di Sulawesi Utara yang dipantau secara intensif karena berpotensi erupsi, di antaranya Gunung Awu di Sangihe, Karangetang dan Ruang di kabupaten kepulauan Sitaro, Lokon, Soputan, Mahawu di Minahasa, dan Tangkoko. Status gunung-gunung ini sering berubah antara waspada (level II) sampai saat ini.

Terlepas dari ancaman bencana, di sisi lain manfaat gunung berapi sebagai potensi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Sebab abu vulkanik sangat bermanfaat bagi pertanian jangka panjang karena kaya akan mineral (silikat, besi, magnesium, kalium) yang meningkatkan kesuburan tanah. Pasca letusan, abu bertindak sebagai pupuk mineral alami, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan retensi air, serta menunjang ketahanan pangan. Walaupun dalam jangka pendek, abu tebal dapat merusak tanaman.

Berikut ini beberapa manfaat abu vulkanik bagi pertanian:

Penyubur Tanah Alami (Nutrisi Kaya): Abu vulkanik kaya akan unsur hara mikro dan makro seperti besi (Fe), magnesium (Mg), silika (Si), dan kalium yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Memperbaiki Struktur Tanah: Abu vulkanik dapat meningkatkan drainase dan aerasi, khususnya pada tanah liat, menjadikannya media tanam yang lebih baik.

Meningkatkan Retensi Air: Tanah yang bercampur abu vulkanik mampu menahan air lebih optimal, yang sangat membantu dalam mengatasi kekeringan. Pembenah Tanah (Soil Conditioner): Pelapukan abu vulkanik melepaskan mineral yang memperbaiki kualitas tanah, bertindak sebagai pupuk mineral multi-nutrien.

Pengendali Hama Alami: Partikel abu vulkanik dapat mengurangi populasi hama atau serangga perusak tanaman secara alami.

Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman: Penelitian menunjukkan abu vulkanik dapat melipatgandakan pertumbuhan tanaman dengan mengubah mikrobioma tanah.

Penangkap Karbon: Abu vulkanik mampu menangkap Dari atmosfer, membantu mengurangi emisi dan meningkatkan ketahanan pangan.

Lepas dari dampak negatif gunung berapi, setiap wilayah terdapat aktivitas gunung berapi di Indonesia tanaman tahunan seperti pohon pala tumbuh subur. Petani pala di kabupaten kepulauan Siau percaya akan ancaman bencana dan peluang dollar dari hasil dan kualitas pala Siau.

Dikutip dari Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Salah satu komoditas ekspor penting yang berperan strategis dalam penerimaan devisa negara adalah pala. Indonesia menjadi salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia dengan pangsa pasar sebesar 75 persen (ILO, 2013). Pasar utama tujuan ekspor pala Indonesia adalah Vietnam, Amerika Serikat, Belanda, Jerman dan Italia. Menurut Naisin & Asyik (2022) Belanda menjadi negara yang berkontribusi memberikan nilai tertinggi sebagai negara tujuan ekspor Indonesia. Harga pala di pasar internasional dapat mencapai US$ 16.000 – 21.000 per ton saat permintaan sedang tinggi. Pengusaha pala di Indonesia didominasi oleh Perkebunan Rakyat (PR) dan sebagian kecil diusahakan oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Sebagai tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh Perkebunan Rakyat, mayoritas budidaya pala di Indonesia dilakukan secara ekstensif atau jarang dipelihara dengan umur tanaman rata-rata sudah tua yaitu lebih dari 30 tahun (Ruhnayat & Martini,2015). Sebagai komoditas dengan nilai ekspor tinggi, pala Indonesia memiliki prospek yang bagus di pasar internasional. Berdasarkan data FAO, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara produsen pala dunia, bersaing dengan negara produsen lainnya seperti India dan Guatemala. Selain itu, Indonesia juga menempati urutan kedua sebagai negara eksportir pala di pasar dunia. Sulawesi Utara merupakan provinsi sentra produksi terbesar untuk pala di Indonesia pada tahun 2021. Pala di Provinsi Sulawesi Utara hanya dikuasai oleh perkebunan rakyat ( PR ) dan tidak ada yang dikuasai oleh PBN maupun PBS. Terdapat 6 kabupaten dengan produksi pala dalam terbanyak di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten sentra utama pala adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan kontribusi produksi sebesar 35,71% dari total produksi pala Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten penghasil palalainnya adalah Kabupaten Kepulauan Talaud (34,65%), Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (26,77%), Kabupaten Minahasa Utara (0,63%), dan Kabupaten Bitung (0,53%). Sisanya sebesar 1,72% merupakan kontribusi dari kabupaten lainnya.( Anton L).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....