Guru di Perbatasan Tetap Semangat Mengabdi
- 06 Okt 2026 19:09 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Pengabdian guru di wilayah kepulauan tidak terlepas dari berbagai keterbatasan, termasuk akses transportasi, listrik, jaringan komunikasi, hingga fasilitas pembelajaran.
Hal tersebut dialami Julianto Jan Haris Haribae, S.Pd.,Gr., guru SMP Negeri 3 Satu Atap Tabukan Selatan Tengah yang bertugas di Kampung Pulau Beeng Darat. Dalam Dialog Interaktif Pro 1 RRI Tahuna, Senin 5 Oktober 2026, Julianto mengatakan dirinya berdomisili di Kampung Kuma 1, Kecamatan Tabukan Tengah.
Ia menjelaskan, untuk menuju tempat tugas harus menyeberang menggunakan perahu dari Kampung Salurang menuju Pulau Beeng Darat. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit, tergantung kondisi cuaca. “Kalau berbicara kesejahteraan, menurut saya tergantung dari diri kita sendiri. Namun secara finansial, khususnya guru di daerah kepulauan, ada tunjangan khusus guru,” katanya.
Menurut Julianto, tunjangan khusus tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap guru yang bertugas di wilayah kepulauan maupun daerah dengan akses yang sulit. Ia mengaku, meskipun bekerja di tengah keterbatasan, kondisi kesejahteraannya saat ini cukup baik.
Memaknai Hari Guru Sedunia, Julianto mengibaratkan guru seperti seorang petani yang tetap bekerja dan menanam meskipun menghadapi perubahan cuaca. “Guru harus seperti petani. Walaupun kondisi cuaca berganti-ganti, tetap semangat menanam dan menghasilkan karya, karena suatu saat akan menuai apa yang ditanam,” ujarnya.
Keterbatasan juga dirasakan masyarakat Pulau Beeng Darat yang hingga kini belum menikmati aliran listrik. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Julianto dalam menjalankan tugas mendidik para siswa. Ia menyebut sekolah telah mendapat bantuan pembangkit listrik tenaga surya dari pemerintah pusat pada 2025, sehingga aktivitas pembelajaran menjadi lebih terbantu.
Selain listrik, sekolah juga memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah untuk menyediakan layanan internet Starlink. “Dengan fasilitas yang ada, kami cukup terbantu dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” kata Julianto. Ia menambahkan, sebagai guru PJOK, dirinya menghadapi keterbatasan lapangan yang hanya sekitar 4 x 10 meter, sehingga terkadang pembelajaran olahraga dilakukan di pantai dengan memanfaatkan fasilitas lapangan milik kampung.(Azizah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....