David Budiman Ungkap Medan Berat Pemadaman Karhutla Gunung Awu

  • 01 Okt 2026 19:08 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Solidaritas lintas komunitas dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Sangihe terus berlanjut tanpa kenal lelah. Perjuangan gigih para relawan yang bertaruh nyawa di lereng Gunung Awu dikupas tuntas dalam program Obrolan Komunitas Pro2 RRI Tahuna, Rabu (30/9/2026).

Menghadirkan Koordinator Lembah yang juga relawan aktif penanganan karhutla, David Budiman, siaran malam itu membedah situasi terkini di lapangan. Berpusat di Posko Pintu Rimba yang sebelumnya berpindah dari jalur pendakian utama menuju kawasan Kendar, para relawan secara konsisten terus menyisir sisa-sisa titik api dan bara yang masih tersembunyi.

Meskipun kondisi eskalasi api di beberapa wilayah dilaporkan mulai berangsur merurun dan relatif terkendali dibandingkan hari-hari sebelumnya, ancaman bahaya belum sepenuhnya hilang. Ancaman terbesar justru datang dari bara api bawah tanah yang kerap tidak terlihat secara kasatmata namun berpotensi memicu kobaran baru apabila tertiup angin kencang.

Di balik operasi penyelamatan tersebut, gerakan kemanusiaan ini digerakkan oleh aliansi lintas komunitas yang heterogen, mulai dari kelompok pecinta alam, klub motor, pegiat panjat tebing, hingga komunitas diving. Keberagaman latar belakang usia dan profesi ini melebur menjadi satu kekuatan padu di bawah koordinasi Posko Pintu Rimba.

"Api bukan hanya terlihat di permukaan. Bara bisa berada di dalam tanah sehingga harus dipadamkan sampai benar-benar mati. Para relawan harus berulang kali naik dan turun gunung. Kadang muncul rasa lelah bahkan putus asa karena api sulit dipadamkan, tetapi mereka saling mendukung dan berdiskusi untuk mencari cara yang lebih efektif," ujar David Budiman saat membagikan pengalamannya di studio Pro2 RRI Tahuna.

Dalam praktiknya, medan terjal berupa tebing curam dan lembah di jalur Kendar menuntut penerapan teknik khusus. Keahlian tali-temali dari para relawan komunitas panjat tebing menjadi aset vital untuk menjangkau titik api berbahaya, yang diatur secara sistematis bersama tim pembawa logistik, regu air, dan koordinasi radio.

Menutup perbincangan, David mengapresiasi dukungan luar biasa dari masyarakat sekitar yang turut membantu menyediakan pasokan air bersih serta logistik bagi para petugas di posko. Kerja sama erat antara relawan dan warga ini membuktikan bahwa kelestarian Gunung Awu merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga dengan ketahanan mental dan kebersamaan. (Julfan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....