Musim Kemarau, Harga Hasil Pertanian Naik Begitupun dengan Tantangannya
- 30 Sep 2026 08:38 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Petani Sangihe Muslin Mirontoneng mengatakan, musim kemarau kali ini membuat dunia petanian kesulitan meskipun dibarengi dengan kenaikan harga. Penyiraman tanaman harus dilakukan setiap hari dan hasil panen saat musim kemarau tidak semaksimal saat cuaca normal.
"Tapi sekarang diuntungkan dengan harga yang tiga kali lipat dari sebelumnya malahan untuk rica (Cabe) pernah menyentuh harga Rp 240.000/kg beberapa waktu yang lalu. Di musim kemarau lebih baik menanam sedikit tapi dipelihara dengan baik karena harga cukup tinggi," katanya.
Ia juga menuturkan sumber air yang digunakan untuk menyiram tanamannya di musim kemarau berasal dari aliran air kampung Malisade. Sebelum menggunakan air harus meminta ijin kepada Kapitalaung (Kepala Desa) dengan catatan hanya bisa dipakai pagi dan sore hari.
Meskipun bertani di musim kemarau membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar, tapi Muslin mengaku tidak menambah tenaga kerja. "Walaupun kami sewa tapi kasihan mereka bekerja di tengah cuaca yang sangat panas, dikebun kerjanya jam 8 sampai jam 12 siang lalu istirahat," ujarnya.
Petani yang tergabung dalam komunitas Petani Muda Sangihe ini mengatakan, sejak tahun lalu pemerintah sudah mengingatkan tentang musim kemarau. Sehingga sebagai petani ia berfokus pada pembukaan lahan dan menanam nenas karena nenas tidak terlalu membutuhkan banyak air.
Ia juga menjamin stok nenas di bulan desember yang bertepatan dengan salah satu hari besar keagamaan. "Untuk yang ingin membuat kue berbahan selai nanas, di bulan desember sudah ada buah nenas dari kami petani," ucapnya.
Tapi ia mengakui, ada hal yang menjadi ketakutan para petani terkait dengan tanaman nenas mereka di musim kemarau. Jika musim panas akan terus berlangsung satu atau dua bulan kedepan, ditakutkan buah nenas tidak akan menjadi besar. "Tetap berbuah tapi kecil", katanya. (Herlien)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....