Tatapan yang Memulihkan dan Rahmat yang Mengubahkan

  • 29 Sep 2026 15:23 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Penyuluh Agama Katolik Febiyola Silangen kepada RRI mengatakan, hidup di zaman sekarang, manusia begitu cepat menilai seseorang. Penilaian itu bisa melalui media sosial bahkan pergunjingan sehari-hari dan hal tersebut menjadi sebuah realita yang menakutkan.

"Ketika seseorang melakukan satu kesalahan maka seluruh kebaikannya seolah-olah terhapus. Dunia kita hari ini adalah dunia yang gemar memberi label, gemar menghakimi dan sangat pelit memberi kesempatan kedua," katanya.

Jika seseorang dicap buruk menurut Febiyola, hal itu akan melekat dan masyarakat turut mengucilkan. "Namun puji Tuhan Injil Matius membawa angin segar yang mematahkan logika dunia yang kejam itu, kita dipertemukan dengan Yesus yang cara pandang-Nya menjungkirbalikan standar sosial manusia.

Febiyola menjelaskan, umat Tuhan diajak melihat bagaimana Allah bekerja melalui kerapuhan bukan kesempurnaan dan untuk memahami dahsyatnya peristiwa dalam Injil Matius 9 ayat 9-13, mundur ke abad pertama dan masuk dalam benak orang Yahudi. "Siapakah Matius?"

Matius adalah seorang pemungut cukai dan di zaman penjajahan Romawi, pemungut cukai bukanlah pegawai negeri yang terhormat. Secara religius status Matius dicap sebagai "Pendosa Publik. Ia disamakan dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Jika orang Farisi lewat di depan rumah cukai mereka akan membuang muka dan meludah ke tanah atau menarik jubah mereka agar tidak menyentuh Matius. Tetapi ketika Yesus lewat, injil mencatat dengan indah "Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya ikutlah aku", ujarnya.

Yesus tidak melihat seorang penghianat, tetapi Yesus melihat seorang anak manusia yang terluka dan membutuhkan keselamatan. Hanya dengan dua kata "Ikutlah Aku" seluruh tembok pertahanan Matius menjadi runtuh. (Herlien)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....