Gempa Vulkanik Gunung Awu Fluktuatif, Masyarakat Dihimbau Tetap Siaga

  • 11 Jun 2026 19:20 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Pasca gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang kabupaten kepulauan Sangihe, aktivitas kegempaan vulkanik gunung api Awu turun drastis. Fenomena aktivitas kegempaan vulkanik gunung Awu, bagaikan tersedot ke perut bumi oleh gempa tektonik. Data seismograf yang publikasikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) pasca gempa utama Senin 8 Juni 2026 dengan magnitudo 7,7, kegempaan tinggi justru pada gempa tektonik sebanyak 62 kali gempa dengan amplitudo diatas 31 milimeter. Gambar dan pola Pacific Ring of Fire atau cincin api di pasifik ini, terbaca pada seismograf sampai empat hari pasca gempa dahsyat. Walaupun dalam dua hari terakhir ini seismograf telah mendeteksi kegempaan vulkanik dangkal maupun kegempaan vulkanik dalam, itupun hanya terjadi 3 sampai 13 kali gempa.

Petugas pemantau gunung api Awu Didi Bina sedang menunjukan dan menjelaskan aktivitas kegempaan Awu. (Foto : RRI/Merry Sasenga).

Analis gunung api Awu menilai keanehan aktivitas kegempaan menunjukan energi yang sudah terbentuk terkubur kembali. Padahal proses pembakaran energi di perut Awu untuk membuka kubah lava sedang terjadi.

“Ini kemungkinan aktivitas kegempaan vulkanik akan naik lagi setelah selesai gempa tektonik” kata pemantau Awu Didi Bina.

Patut diantisipasi kedepan bila energi sebelumnya yang telah terkubur akan naik lagi bersama energi baru yang sudah terbentuk di permukaan. Pola seperti halnya udara di dalam botol tertutup yang diisi air, akan menghasilkan energi yang besar.

Akibat guncangan gempa pada Senin pagi, dinding gunung api Awu terdapat tiga titik longsor. Status gunung api awu sesuai keputusan KESDM masih dalam level tiga siaga. (Alex D).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....