BPBD Sangihe: Warga Jangan Panik saat Gempa

  • 11 Jun 2026 04:38 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Gempa bumi yang baru saja mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe menyisakan kepanikan di tengah masyarakat, tak terkecuali di lingkungan perkantoran dan sekolah. Menyikapi fenomena ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe mengingatkan masyarakat untuk tetap mengedepankan manajemen situasi yang tenang dan terukur, bukan sekadar respons emosional di media sosial.

Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sangihe, Dicky Lungkang, dalam program Obrolan SPADA Pro2 RRI Tahuna, Rabu (10/6/2026), menekankan pentingnya sikap "Siap, Tanggap, Selamat". Menurutnya, kesadaran akan mitigasi bencana sering kali terlupakan saat situasi darurat terjadi.

"Saat terjadi gempa kemarin, kita melihat banyak orang yang panik. Setelah keluar ruangan, masyarakat hanya diam di lapangan terbuka tanpa arah yang jelas. Padahal, manajemen diri itu sangat penting. Jangan hanya sekadar membuat story atau postingan di media sosial, tapi ketahui apa yang harus dilakukan setelah guncangan berhenti," kata Dicky.

Dicky menyoroti kurangnya literasi informasi yang menyebabkan kepanikan berlebih, terutama saat isu tsunami beredar di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa BPBD terus memantau tanda-tanda alam dan data resmi dari pihak berwenang. Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mengungsi sebelum ada arahan resmi, kecuali jika kondisi lingkungan memang membahayakan.

"Kami memantau tanda-tanda alam. Misalnya, saat permukaan air laut kembali naik atau ada suara-suara aneh, itu memang perlu diwaspadai. Namun, jangan mudah percaya informasi yang tidak lengkap. Baca informasi secara utuh, jangan baru membaca judulnya saja lalu langsung menyebarkannya kembali, karena itu bisa memicu kepanikan massal," ujarnya.

Lebih lanjut, ia memberikan edukasi penting terkait mitigasi di tingkat keluarga. BPBD Sangihe terus mendorong agar setiap keluarga memiliki rencana darurat dan memahami prosedur evakuasi mandiri yang benar sesuai dengan kondisi geografis Sangihe yang berada di wilayah perbatasan dan rawan gempa.

"Langkah paling mendasar adalah ketenangan. Setelah gempa, lakukan pengecekan lingkungan, pastikan keluarga aman, dan pantau terus kanal informasi resmi pemerintah. Jangan terpengaruh isu yang tidak bertanggung jawab. Kunci keselamatan adalah ketenangan dan pemahaman akan prosedur yang benar," kata Dicky menutup obrolan Spada.

Melalui sosialisasi ini, BPBD Sangihe berharap generasi muda dan seluruh elemen masyarakat dapat menjadi agen mitigasi bencana yang cerdas, sehingga setiap ancaman dapat dihadapi dengan sikap yang siap, tanggap, dan berakhir dengan keselamatan. (Julfan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....