Menjaga Warisan Bumi, Sangihe Melangkah menuju Geopark
- 05 Mei 2026 12:20 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Di pagi yang tenang di Kepulauan Sangihe, bentang alam pegunungan dan laut seolah menyimpan cerita panjang tentang perjalanan bumi. Di balik keindahannya, tersimpan potensi besar yang kini mulai dilirik sebagai bagian dari masa depan pariwisata berkelanjutan : geopark.
Bagi sebagian orang, istilah geopark mungkin masih terdengar asing. Namun bagi pemerintah daerah, konsep ini bukan sekadar tren, melainkan peluang untuk menjaga alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Secara umum geopark adalah kawasan geografis yang memiliki warisan geologi penting, unik, dan bernilai ilmiah tinggi.
Kepala Dinas Pariwisata Sangihe, Dr. Ir. Sonny Kapal, MM, mengatakan bahwa inti dari geopark terletak pada warisan geologi yang unik dan bernilai global. “Kita berbicara tentang jejak sejarah bumi—mulai dari batuan, gunung api, hingga bentang alam yang terbentuk selama jutaan tahun,” ujarnya.
Di berbagai belahan dunia, kawasan seperti pegunungan batu pilar di Zhangjiajie, China, atau pulau vulkanik Jeju di Korea Selatan telah lebih dahulu dikenal sebagai geopark kelas dunia. Di Indonesia, kawasan Gunung Batur di Bali juga menjadi contoh bagaimana geologi dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi.
Namun, geopark bukan sekadar tentang pemandangan indah. Ada syarat yang harus dipenuhi. Kawasan harus memiliki batas wilayah yang jelas, mencakup tidak hanya gunung atau situs tertentu, tetapi juga desa, kawasan konservasi, hingga ruang hidup masyarakat.
Lebih dari itu, pengelolaan menjadi kunci. Geopark membutuhkan sistem manajemen yang melibatkan banyak pihak—pemerintah, akademisi, pelaku wisata, hingga masyarakat lokal. Tanpa kolaborasi, konsep ini sulit berkembang.
Di Sangihe, pendekatan berbasis masyarakat menjadi perhatian utama. Warga didorong untuk terlibat langsung, baik sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, maupun pelaku usaha lokal. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari geopark bisa dirasakan secara langsung.
Konservasi juga menjadi fondasi penting. Aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, seperti penambangan liar, harus dikendalikan. Alam tidak lagi dipandang sebagai sumber eksploitasi semata, tetapi sebagai warisan yang harus dijaga.
Tak kalah menarik, geopark juga membuka ruang bagi pendidikan dan penelitian. Jalur interpretasi geologi, pusat informasi, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan ilmu kebumian kepada masyarakat luas.
Di balik semua itu, ada satu benang merah yang mengikat yaitu keterhubungan antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat. Cerita rakyat, tradisi, hingga cara hidup masyarakat Sangihe menjadi bagian yang memperkaya nilai sebuah geopark.
Perjalanan menuju pengakuan sebagai geopark dunia bukanlah proses singkat. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun, mulai dari penyusunan dokumen ilmiah hingga evaluasi langsung oleh tim internasional. Namun bagi Sangihe, langkah ini dianggap sebagai investasi masa depan.
“Geopark bukan hanya tentang status internasional, tetapi bagaimana kita menjaga warisan bumi dan menjadikannya sumber kehidupan bagi masyarakat,” kata Kadis Sonny.
Di tengah perubahan zaman, Sangihe kini berada di persimpangan antara menjaga alam dan membangun masa depan. Geopark mungkin menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya—sebuah cara untuk merawat bumi, sambil membuka peluang baru bagi generasi yang akan datang. (Arsitini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....