Dedikasi Guru di Nusa Tabukan Menghadapi Tantangan Alam dan Keterbatasan
- 01 Mei 2026 12:21 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Pagi di Kampung Bukide, Nusa Tabukan, tidak selalu ramah. Angin laut kerap berembus kencang, dan gelombang bisa berubah tinggi tanpa aba-aba. Namun bagi Dartu Sumeika Makahinsade, S.Pd., Gr—atau yang akrab disapa Sir Atu—semua itu bukan alasan untuk berhenti melangkah. Ada tanggung jawab yang menunggu di seberang : mengajar.
Dari Pelabuhan Petta, Sir Atu harus menyeberang menggunakan perahu nelayan jenis pambout. Perahu sederhana itu menjadi satu-satunya akses menuju sekolah tempat ia mengabdi, SMP Nusa Tabukan yang terletak di dekat pantai Kampung Bukide. Perjalanan yang dilalui bukan sekadar rutinitas, tetapi juga perjuangan melawan alam.
Di sekolah tersebut, hanya ada 33 siswa dengan 8 orang guru, termasuk kepala sekolah. Jumlah yang kecil, namun menyimpan harapan besar. Di ruang-ruang kelas sederhana, proses belajar mengajar berlangsung dengan segala keterbatasan. Listrik di Kampung Bukide hanya menyala dari pukul 17.30 hingga 05.30 pagi. Artinya, selama kegiatan belajar di siang hari, tidak ada aliran listrik. Guru dan siswa pun mengandalkan metode belajar manual tanpa bantuan perangkat elektronik.
Tak hanya itu, jaringan komunikasi juga masih menjadi kendala. Akses internet yang terbatas membuat berbagai informasi dan kebutuhan administrasi tidak selalu mudah dipenuhi. Bahkan, ketika ada urusan terkait dana BOS, bimtek, atau keperluan dinas lainnya, Sir Atu harus kembali menyeberangi laut—menghadapi gelombang dan angin sekali lagi.
Tantangan lain datang dari alam yang begitu dekat. Saat air laut pasang, air bisa masuk hingga ke pekarangan sekolah. Aktivitas belajar pun harus menyesuaikan kondisi, tanpa mengurangi semangat para siswa.
Menariknya, siswa di SMP Nusa Tabukan tidak hanya berasal dari Kampung Bukide. Sebagian datang dari Bukide Timur dan Limbalo. Perjalanan mereka pun tidak mudah—kadang harus naik perahu, kadang berjalan kaki melewati hutan demi bisa sampai ke sekolah.
Di tengah segala keterbatasan itu, Sir Atu tetap teguh. Bahkan ketika cuaca ekstrem menghadang, ia tetap berangkat. Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang guru di wilayah perbatasan. Ini adalah cerita tentang keteguhan, tentang harapan yang terus dijaga, dan tentang pendidikan yang tetap hidup—meski harus melawan gelombang, angin, dan keterbatasan. (Arsitini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....