Sejarah Kelam dan Mimpi Baru Pengungsi Gunung Ruang
- 21 Apr 2026 10:55 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Sudah dua tahun lebih, tangisan disertai jeritan dan air mata masyarakat di bawah kaki gunung ruang mengering pasca erupsi 18 April 2024. Hujan api dari dapur magma pada saat itu, memaksa 6.125 orang penduduk yang hidup di bawah kaki gunung ruang meninggalkan harta dan desa yang mereka cintai. Mereka terpaksa menerima takdir, hidup di negeri yang baru dan asing karena di tanah leluhur sudah tidak aman lagi. Pada peristiwa erupsi saat itu tercatat yang terdampak 14.045 jiwa. Setelah dua tahun berlalu di kaki gunung ruang di kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro) kini mulai terlihat kehidupan. Pohon kelapa dan semak-semak yang mengelilingi pulau ruang terbakar oleh lava saat terjadi erupsi, kini sebagian mulai tumbuh dan menghijau kembali. Perahu nelayan, terkadang terlihat berlabuh di tepi pantai entah hanya sekedar berteduh dari sengatan sinar matahari atau sekedar melihat puing- puing kenangan masa lalu yang menyakitkan. Dari atas kepundan kawah, pasir jutaan ton mengikuti pola gunung hingga ke garis pantai. Pemandangan yang dekat pulau salak itu, masih memberi kesan sebagai pulau gersang, walaupun mulai terlihat tanda-tanda kehidupan. Pulau ruang yang terletak di kabupaten kepulauan Sitaro merupakan pulau vulkanik dengan luas wilayah kurang lebih 86,7 kilometer, dihuni 5.681 jiwa. Di pulau itu saat ini hanya terlihat hanya puing - puing bangunan. Penduduk di pulau ruang telah memulai hidup baru di kabupaten Bolaang Mongondow Selatan sejak 13 Februari 2026. Status kependudukan eks pengungsi bukan lagi warga Sitaro setelah gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling menyerahkan rumah buat pengungsi gunung ruang. (Alex D).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....