Sekda Melanchton Harry Wolf: Konsumsi Sagu Bukan Indikator Kemiskinan di Sangihe
- 28 Feb 2026 05:02 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Melanchton Harry Wolf, menegaskan bahwa konsumsi sagu oleh masyarakat tidak bisa dijadikan indikator kemiskinan. Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Interaktif di Prosatu RRI Tahuna, yang membahas keterkaitan sagu dengan angka kemiskinan di Sangihe.
Ia tidak memungkiri bahwa muncul sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait apakah tingginya konsumsi sagu berpengaruh terhadap angka kemiskinan, terutama jika dibandingkan dengan beras dari sisi harga dan daya beli.
“Bila dibandingkan dari nilai jual, harga sagu saat ini bahkan lebih mahal dari beras. Kalau kita membeli sagu seharga Rp20 ribu, mungkin hanya bisa dikonsumsi oleh 2 sampai 3 orang, sementara beras dengan harga yang sama bisa dikonsumsi lebih dari 5 hingga 6 orang. Artinya, secara kuantitas konsumsi, beras memang lebih menjangkau,”ujarnya.
Namun demikian, anggapan bahwa masyarakat yang mengonsumsi sagu identik dengan kemiskinan adalah pandangan yang keliru. Ia menekankan bahwa sagu merupakan bagian dari kearifan dan kharisma lokal masyarakat Sangihe yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Sagu adalah identitas pangan lokal kita. Tidak tepat jika masyarakat yang makan sagu terus kemudian dianggap sebagai masyarakat miskin. Itu pemahaman yang harus diluruskan,” katanya.
Selain itu, dari sisi kesehatan, sagu dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Sebagai sumber karbohidrat yang bebas gluten serta mudah dicerna. Di tengah anjuran pola konsumsi seimbang dan pengurangan asupan beras berlebih, sagu dapat menjadi alternatif pangan yang sehat. (alvrina)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....