Hari Tari Internasional: Jembatan Tradisi dan Modernitas
- 29 Apr 2026 17:39 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Peringatan Hari Tari Internasional pada 29 April 2026 menjadi momentum bagi para seniman muda di Kepulauan Sangihe untuk merefleksikan pentingnya inovasi dalam menjaga kelestarian budaya lokal. Melalui "Tari Kreasi Baru", elemen warisan leluhur dibungkus dengan kemasan kontemporer agar tetap relevan di mata generasi masa kini.
Hal tersebut dibahas dalam program Sore Ceria di Pro2 RRI Tahuna, Rabu (29/4/2026), bersama Yeskri Eka Putra Markus, peraih Juara 10 FLS2N Tingkat Nasional tahun 2025 untuk cabang Tari Kreasi Baru "Alunan Lapasi".
Yeskri menjelaskan bahwa tari kreasi baru bukan sekadar tarian modern, melainkan sebuah bentuk seni yang menggabungkan elemen budaya warisan dengan inovasi kontemporer. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada tingkat kesulitan koreografi yang harus memadukan gerakan pakem tradisional dengan dinamika zaman sekarang.
"Tari kreasi baru ini lebih menantang karena kita harus menggali informasi terlebih dahulu mengenai tema yang akan diangkat. Kita mengkolaborasikan tari tradisional daerah dengan inovasi agar menjadi tarian yang bisa diterima oleh telinga dan mata generasi modern tanpa menghilangkan ruh aslinya," ujar Yeskri kepada rri.co.id.
Salah satu cara menjaga jiwa tarian agar tidak hilang saat dikolaborasikan adalah dengan tetap mempertahankan instrumen musik pengiring asli daerah, seperti musik bambu atau tagonggong. Dengan cara ini, inovasi gerakan tetap berpijak pada landasan identitas budaya Sangihe yang kuat.
Yeskri menekankan bahwa bagi pemula yang bingung memilih antara belajar tari tradisional atau modern, kunci utamanya adalah keseimbangan. Mempelajari tari tradisional adalah cara merawat tradisi, sementara tari modern adalah cara mengikuti perkembangan dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....