Inti Relasi Hidup Dengan Tuhan, Bersatu Dengan-Nya

  • 26 Apr 2026 18:38 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Program Mimbar Agama Katolik di Prosatu Tahuna kembali menghadirkan refleksi iman yang mendalam bersama narasumber Febiyola Silangen, Penyuluh Agama Katolik. Mengangkat tema “Tinggal di dalam Aku”, umat diajak memahami inti relasi dengan Tuhan, bukan sekadar mengagumi Yesus, tetapi hidup bersatu dengan-Nya.

Dalam pemaparannya, Febiyola menyoroti dua gerak besar dalam bacaan Firman, yakni panggilan Allah kepada Saulus (Kisah Para Rasul 9:1-20) dan ajaran Yesus tentang roti hidup dalam Injil Yohanes (Yohanes 6:52-59).

Kisah pertobatan Saulus menjadi gambaran nyata bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia. Saulus yang awalnya memusuhi Gereja justru dipanggil dan ditegur oleh Tuhan di tengah perjalanannya.

Pengalaman kebutaan secara jasmani membawa perubahan batin yang mendalam. Pertobatan Saulus tidak hanya berhenti pada meninggalkan kesalahan, tetapi berlanjut pada tindakan nyata: ia dibaptis dan mulai memberitakan Yesus.

“Di sinilah makna ‘tinggal di dalam Aku’ menjadi nyata, yakni perubahan arah hidup dari penolakan menuju iman dan pewartaan,” jelas Febiyola.

Sementara itu, dalam Injil Yohanes, Yesus mengajarkan tentang roti hidup yang sempat menimbulkan kebingungan di kalangan pendengar-Nya.

Melalui refleksi ini, umat diajak merenungkan beberapa hal penting. Pertama, kecenderungan manusia untuk menjauh dari Tuhan, baik karena kesibukan, dosa yang terus diulang, maupun sikap hati yang keras. Kedua, pilihan hidup antara mengejar hal duniawi atau Kristus sebagai sumber kehidupan sejati.

Febiyola mengajak umat untuk kembali menata arah hidup, terutama saat hati merasa kosong atau lapar secara rohani. “Apakah kita mencari pengakuan, kenyamanan, atau justru kembali kepada Kristus yang memberi hidup?” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa “tinggal di dalam Aku” bukan sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti mengikuti Ekaristi dengan sungguh, membiasakan doa, serta menjalani ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, Febiyola mengingatkan bahwa Tuhan yang memanggil Saulus juga memanggil setiap orang, bahkan dalam kondisi lemah dan penuh kesalahan. Yesus mengundang umat untuk hidup dari-Nya dan bertahan dalam relasi yang erat dengan-Nya.

“Marilah kita membuka hati untuk ditegur, dipulihkan, dan diarahkan kepada hidup yang baru dalam Kristus. Tuhan memberkati kita semua,” tutupnya. (Arsitini)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....