Bahasa Sangihe, Masihkah Relevan bagi Generasi Muda?

  • 28 Feb 2026 13:01 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi, eksistensi bahasa daerah kembali menjadi sorotan. Salah satunya adalah Bahasa Sangihe, bahasa ibu masyarakat Kepulauan Sangihe yang sejak lama menjadi identitas dan perekat budaya.

Budayawan Muda Sangihe, Hermanto Mohonis, menegaskan bahwa Bahasa Sangihe merupakan bahasa pertama yang digunakan dalam keluarga-keluarga di tanah Sangihe. “Bahasa daerah Sangihe adalah bahasa ibu yang paling pertama dalam keluarga yang ada di Sangihe. Bahasa Sangihe sangat erat dan melekat dalam kehidupan masyarakat,” ujar Mohonis.

Realitas saat ini menunjukkan adanya pergeseran budaya. Di wilayah perkotaan, penggunaan Bahasa Sangihe semakin jarang terdengar. Bahasa ini lebih banyak digunakan di kampung-kampung, sementara generasi muda di kota cenderung memakai Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Bahkan di kampung-kampung pun, perubahan mulai terasa. Banyak keluarga yang menikah dengan pasangan bukan orang Sangihe, sehingga penggunaan Bahasa Sangihe dalam rumah tangga semakin berkurang. Kondisi ini secara perlahan memengaruhi intensitas penggunaan bahasa ibu tersebut.

Hermanto mengingatkan pentingnya kesadaran generasi muda untuk tetap menggunakan Bahasa Sangihe selama masih bisa berkomunikasi dengannya. “Gunakan Bahasa Sangihe selagi bisa berkomunikasi, lestarikan selagi ada,” tegasnya.

Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas, jati diri, dan warisan budaya yang tak ternilai. Jika tidak dijaga, dikhawatirkan Bahasa Sangihe hanya akan menjadi kenangan bagi generasi mendatang.

Upaya pelestarian dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga kegiatan adat dan budaya. Generasi muda diharapkan tidak malu menggunakan Bahasa Sangihe dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampung maupun di kota.

Di tengah tantangan globalisasi, menjaga Bahasa Sangihe tetap hidup bukan hanya tanggung jawab orang tua atau tokoh adat, tetapi juga generasi muda sebagai pewaris budaya. Sebab, ketika bahasa hilang, sebagian identitas pun ikut pudar. (Arsitini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....