Sagu Indikator Kemiskinan, Bakal Menimbulkan Ketersinggungan

  • 27 Feb 2026 08:53 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Salah satu indikator penanda garis kemiskinan diantaranya pangan lokal (Sagu), sehingga menimbulkan ketersinggungan di tengah masyarakat Sangihe. Sebab sagu sudah menjadi bagian dari kearifan lokal yang menandakan sebuah identitas diri warga Nusa Utara termasuk bagian timur Indonesia.

Sesungguhnya keseimbangan alam yang diberikan oleh Tuhan untuk kehidupan manusia, dan menjadikan pangan lokal sagu sebagai makanan pokok.

"Tuhan memberikan sagu bagi kita di daerah ini karena tidak mungkin memproduksi beras, karena kita di daerah kepulauan," ujar Tokoh Masyarakat Sangihe, Fentje Janis, kepada RRI.CO.ID Kamis, 26 februari 2026.

Prinsipnya, jika sagu dijadikan alat ukur indikator penanda kategori masyarakat miskin bagaimana mungkin dianugerahkan oleh sang pencipta kepada umatnya.

Di sisi lain, harga sagu di pasaran saat ini sangat mahal bahkan laris manis dibeli oleh masyarakat secara umum baik ekonomi rendah, menengah, dan tinggi.

Untuk itu, Fentje Janis, menyarankan agar BPS kembali mengevaluasi indikator yang menentukan garis kemiskinan yang mengkait-kaitkan pangan lokal sagu.

"Bagi kami ketergantungan konsumsi sagu bukan berarti miskin akan tetapi karena hobi dan sudah menjadi makanan pokok," tegasnya.(AM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....