Mural di Boulevard Tidore Dihapus, Ronny Serang: Harusnya Karya Diapresiasi

  • 13 Agt 2026 07:08 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID Tahuna - Karya Mural sebelumnya menghiasi sebagian sudut Bolivar Tidore Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 Tahun.

Namun belakangan mendapat tekanan untuk dihapus karena dinilai terlalu mencolok dengan tulisan menurut sebagian orang terkesan tidak layak.

Menanggapi tekanan penghapusan tersebut, hal itu memicu reaksi Tokoh Muda Nusantara Utara Sangihe Ronny Paulus Serang.

Menurut Serang penghapusan karya mural di Boulevard Tidore, Kecamatan Tahuna Timur merupakan tindakan yang tidak menghargai karya seseorang.

Ronny mengecam keras adanya upaya intervensi atau intimidasi yang memaksa masyarakat menghapus ekspresi seni tersebut. "Menurut saya tindakan penghapus tersebut membungkam terhadap kreativitas pemuda, mencederai esensi kemerdekaan, terlebih menjelang perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia," kata Serang.

Lanjut dikatakannya dari sisi kreativitas tidak merdeka, sebab jika sekadar mural saja mendapatkan tekanan dimana apresiasi terhadap karya seni.

Ronny menambahkan pembuatan mural di kawasan Boulevard tersebut murni merupakan gerakan spontanitas anak muda Kelurahan Tidore. Ia memastikan tidak ada aktor atau kepentingan politik tertentu yang menggerakkan aksi tersebut.

Oleh karena itu, ia meminta semua pihak—baik pemerintah maupun tokoh masyarakat—untuk melihat karya tersebut secara objektif sebagai bentuk seni, bukan sebagai ancaman.

"Apa pun yang dibuat sebagai karya seni selama tidak mengganggu kamtibmas atau menggunakan lambang-lambang yang dilarang undang-undang, silakan. Ini adalah bagian dari kreativitas anak muda Tahuna Timur, khususnya di Kelurahan Tidore," tegasnya.

Menanggapi anggapan bahwa mural tersebut bermuatan sindiran atau kritik terhadap pihak tertentu, Ronny menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar dalam alam demokrasi. Seni visual merupakan media penyampai aspirasi yang sah ketika jalur komunikasi formal tersumbat.

"Kalau itu dimaknai sebagai kritik, ya kita harus berbenah. Berarti masyarakat sekarang sudah tidak lagi berdiam diri ketika ada hal yang dianggap tidak mewakili aspirasi mereka. Ini sinyal bahwa masyarakat merasa ada ketidakadilan," lanjutnya.

Ia menyayangkan jika karya yang membutuhkan proses berpikir dan konsep matang harus lenyap hanya karena ego segelintir pihak.

"Jangan sampai kreativitas anak muda ini dikekang hanya karena keinginan satu-dua orang yang merasa tersindir. Membuat mural itu tidak mudah, butuh konsep. Ini adalah seni mengkritik dalam bentuk karya yang harus dihargai oleh siapa pun di negeri ini," tambahnya.(Anthon)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....