Perubahan Iklim Ancam Kelangsungan Burung Endemik Sangihe

  • 07 Agt 2026 21:18 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID,Tahuna - Perubahan iklim menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup burung endemik di Kabupaten Kepulauan Sangihe, terutama memengaruhi siklus berkembang biak, ketersediaan pakan, serta keberhasilan anakan bertahan.

Conservation Program Officer Burung Indonesia Ganjar Cahyo Aprianto, saat dikonfirmasi rri.co.id, Kamis, 6 Agustus 2026, mengatakan perubahan iklim berdampak langsung terhadap keberlangsungan populasi burung endemik Sangihe.

Menurut Ganjar, burung sangat bergantung pada kestabilan iklim untuk menjalani seluruh siklus hidupnya, mulai bersarang, bertelur, menetaskan telur, hingga membesarkan anak secara optimal bersama.

"Musim yang teratur menjadi penanda alami bagi burung menentukan waktu reproduksi, sehingga perubahan pola cuaca menyebabkan proses berkembang biak tidak lagi berlangsung sesuai kebiasaan," ujarnya.

Di Kepulauan Sangihe, sejumlah spesies burung endemik memiliki musim berkembang biak tertentu, namun kini terganggu akibat musim hujan dan kemarau semakin sulit diprediksi bersama.

Ketidakpastian pergantian musim mengakibatkan keterlambatan datangnya hujan sehingga ketersediaan pakan alami ikut menurun, terutama serangga, buah-buahan, maupun sumber makanan penting lainnya bagi burung.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap indukan dan anakan burung karena kebutuhan makanan selama masa pertumbuhan tidak terpenuhi secara optimal, sehingga peluang bertahan hidup menurun.

Ganjar menjelaskan banyak anakan burung berisiko gagal tumbuh hingga dewasa akibat kekurangan pakan, sementara indukan mengalami tekanan karena sulit memenuhi kebutuhan anak-anaknya setiap hari.

Ia menegaskan dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem serta kelestarian burung endemik Kepulauan Sangihe yang berhabitat sangat terbatas.(Jumel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....