Pemda Sangihe Dinilai Lemah Cari Pasar Sarang Burung Walet

  • 27 Mar 2026 10:51 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Pelaksanaan lelang sarang burung walet yang di gelar Pemerintah Daerah hanya dikuti satu penyedia jasa, pengusaha lokal.

Kurangnya peminat penyedia jasa walet ini membuat penawaran yang di ajukan panitia lelang kandas di dasar untuk harga satuan perkilo gram.

Lelang sarang burung walet asal Kampung Kalama, Kecamatan Kepulauan Tatoareng yang digelar di aula kantor bupati, Rabu, (25/3/2026) tanpa persaingan.

Hingga pelaksanaan lelang hanya satu peserta yang mendaftar, sehingga harga berhenti di batas bawah yang ditetapkan yakni Rp4,5 juta per kilogram.

Asisten II Sekretariat Daerah Sangihe, Gregorius D. Londo, mengakui bahwa awalnya terdapat tiga calon peserta lelang tetapi Dua di antaranya mundur sebelum proses penawaran.

“Memang untuk lelang ini sebetulnya ada 3 calon namun yang benar-benar mendaftar hanya satu," ucapnya.

Lanjut dikatakannya bahwa sebenarnya Pemda berharap ada persaingan saat di gelar lelang sehingga harga bisa naik.

Kondisi ini memperpanjang tren pelemahan harga sarang walet Kalama dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dibandingkan pelaksanaan Lelang sebelumnya yakni tahun 2023, harga lelang sempat mencapai sekitar Rp7,27 juta per kilogram—menjadi salah satu titik tertinggi. Setahun kemudian, pada 2024, harga turun tajam ke kisaran Rp4,2 juta per kilogram seiring menurunnya produksi. Tahun ini, harga kembali stagnan di level Rp4,5 juta karena minimnya peminat.

Sejumlah pihak juga menilai kurangnya peminat dari pengusaha menandakan ketidaksiapan Pemda mencari pasar.

Unsur Generasi muda Sangihe, Ronny Serang,SE.M.Pd menilai bahwa seharus bagian di Sekretariat Daerah mempersiapkan proses lelang artinya sebelum lelang diadakan memastikan kesiapan penyedia jasa

"Kalau seperti inikan menunjukkan ketidaksiapan kita dalam proses lelang harusnya dari jauh-jauh hari itu sudah ada calon pembeli tentunya lebih dari satu orang," imbuhnya.

Bahkan ia menyarankan bila Pemda tidak dapat menyiapkan pasar yang baik untuk sarang walet dikembalikan saja pengelolaannya ke masyarakat.

"Sarang walet kan memiliki kandungan gizi yang baik terutama bagi balita, kembalikan ke masyarakat saja agar dapat menunjang gizi anak-anak pulau," tegasnya lagi.

Sementara itu imbas dari kurangnya peminat sarang walet Pemerintah Kampung Kalama harus melakukan langkah agar pembiayaan tetap seimbang dengan bagi hasil Pemda dan masyarakat 40:60.

Kapitalaung Kampung Kalam, Eksplandirks Kahimpong pada kesempatan itu mengatakan bahwa penurunan harga berdampak langsung pada biaya operasional panen.

"Kami pengelola terpaksa harus mengurangi jumlah penjaga dari tiga orang menjadi dua orang sebab tidak akan sebanding," kata Kapitalaung.

Diketahui upah penjaga sarang walet sekitar Rp450 ribu per minggu hingga menunggu panen tiba, namun sebelumnya saat harga stabil bisa mencapai Rp750 ribu.(Anthon)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....