Toleransi Beragama Jadi Kekuatan Bangsa Indonesia

  • 20 Mar 2026 03:06 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Toleransi beragama menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Kondisi ini tidak lepas dari kenyataan bahwa bangsa Indonesia hidup di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan keyakinan yang berbeda-beda.

Perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang kodrati, termasuk perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ciptaan manusia, melainkan anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri.

Tujuan dari perbedaan itu sendiri adalah untuk saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Namun dalam praktiknya, perbedaan sering kali justru dipertentangkan sehingga menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat.

Padahal, keberagaman di Indonesia sejatinya merupakan kekuatan, bukan kelemahan. Hal ini tercermin dalam semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika, yang menegaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan.

Pendeta Leopold Tamalawe, S.Th., M.Pdk, dalam Dialog Interaktif Pro 1 RRI Tahuna, Kamis 19 Maret 2026, mengatakan bahwa keberagaman menuntut kedewasaan dalam bersikap. Kedewasaan yang dimaksud adalah sikap saling menghormati, menghargai, dan memperlakukan sesama secara setara.

Menurutnya, tanpa sikap tersebut, keberagaman justru dapat memicu gesekan dan pertentangan. Karena itu, toleransi dan moderasi beragama menjadi jembatan penting dalam menjaga persatuan bangsa.

Ia menambahkan, meskipun setiap agama memiliki perbedaan dalam akidah, doktrin, dan ajaran, terdapat titik temu yang dapat mempererat hubungan antarumat beragama, yaitu nilai-nilai etika dan moral yang diajarkan oleh masing-masing agama.

Dalam konteks tersebut, toleransi beragama menjadi semakin penting, terlebih menjelang perayaan Idul Fitri. Masyarakat diajak untuk memberi ruang bagi umat lain dalam menjalankan ibadah, tidak memaksakan kehendak, serta hidup berdampingan secara damai.

Pendeta Leopold juga menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar formalitas sosial, melainkan sikap hati yang dilandasi kasih dan keadilan. Dengan demikian, masyarakat dapat saling menjaga suasana kondusif, saling membantu tanpa memandang perbedaan, serta membangun kehidupan yang harmonis, seperti yang telah terwujud dalam kehidupan masyarakat Sangihe.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....