Waspada Sinyal Alam, Titik "Bendera Merah" Rawan Longsor

  • 25 Feb 2026 14:23 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Memasuki puncak musim penghujan, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe diminta untuk lebih peka terhadap perubahan lingkungan yang menjadi sinyal awal terjadinya bencana. Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana, Dicky Lungkang, mengungkapkan adanya sejumlah titik "bendera merah" atau zona rawan bencana yang memerlukan pengawasan ekstra.

Dalam program Spada Pro2 RRI Tahuna, Rabu (25/2/2026), Dicky menekankan bahwa peringatan ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai langkah mitigasi agar masyarakat siap menghadapi cuaca ekstrem.

Ia memaparkan hasil survei lapangan yang menunjukkan adanya retakan tanah memanjang di beberapa titik strategis. Wilayah perbukitan dan lereng gunung menjadi fokus utama karena sejarah kejadian bencana yang kerap memakan korban jiwa.

Beberapa titik rawan longsor yang diidentifikasi meliputi:

Area Kelurahan Apeng Sembeka: Kompleks di bawah rumah sakit hingga bagian belakang kantor Sinode.Wilayah Tahuna: Retakan memanjang ditemukan mulai dari area belakang Sinode hingga ke wilayah KPU.

Tahuna Timur: Terdapat patahan (crack) dari Pedine arah buas mangki yang berpotensi tinggi meskipun saat ini skalanya masih kecil.Jalur Batulewer hingga Lesa: Wilayah ini memiliki karakteristik kerawanan ganda, yakni longsor di sisi tebing dan gelombang pasang di sisi pantai.

"Secara sejarah, area-area ini sering terjadi longsor besar. Kami sudah pantau ada retakan tanah yang memanjang. Jika sudah ada crack atau retakan, itu adalah 'kode' dari alam bahwa potensi bencana sangat besar," ujar Dicky.

Selain ancaman langsung terhadap pemukiman, longsor di lereng gunung juga berdampak signifikan pada ketersediaan air bersih bagi warga kota. Hal ini dikarenakan sumber air utama PDAM berada di wilayah dataran tinggi.

"Masyarakat sering mengeluh air keruh atau mati saat hujan. Itu terjadi karena longsor di atas menutupi sumber air atau merusak pipa transmisi. Inilah dampak tidak langsung yang harus kita pahami bersama sebagai bagian dari risiko tinggal di wilayah konservasi," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....