SJM Nilai Toleransi Kunci Hidup Berdampingan Damai

  • 10 Feb 2026 22:12 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Komunitas Sedekah Jumat Muslimah (SJM) dan Pendamping P3H PUI menjadi sorotan dalam acara Moderasi Beragama yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Tahuna, Selasa, 10 Februari 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Hj. Siti Yuliati, S.Ag sebagai narasumber via telepon.

Hj. Siti Yuliati menjelaskan, SJM merupakan singkatan dari Sedekah Jumat Muslimah yang awalnya lahir sebagai gerakan kepedulian sosial kaum perempuan. Sementara Pendamping P3H PUI adalah Pendamping Proses Produk Halal Pendamping Umat Islam yang berada di bawah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Dari perspektif agama, ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam manusia diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling mengejek, melainkan untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Al-Qur’an menyebutkan bahwa keberagaman suku, bangsa, dan latar belakang merupakan kehendak Tuhan.

Menurutnya, keberagaman tersebut bertujuan agar manusia dapat belajar hidup berdampingan dengan saling menghormati. Nilai inilah yang menjadi dasar penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat majemuk.

Hj. Siti Yuliati menilai, nilai toleransi sejatinya sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal tersebut terlihat dari interaksi antar tetangga, aktivitas di pasar, hingga dalam kegiatan sosial, di mana masyarakat terbiasa saling menyapa, membantu, dan hidup berdampingan secara damai.

"Namun demikian, toleransi yang kuat di tingkat keseharian kerap diuji ketika masyarakat berhadapan dengan narasi dari luar, khususnya melalui media sosial. "Narasi tersebut, menurutnya, sering kali memancing emosi, kecurigaan, dan prasangka satu sama lain."

Ia menekankan bahwa toleransi bukan sekadar pelengkap, melainkan pondasi utama dalam hidup bersama. Di daerah yang majemuk, toleransi diibaratkan seperti udara yang tidak selalu terlihat, namun jika hilang dapat membuat kehidupan sosial terasa sesak.

Tanpa toleransi, perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru mudah dipersepsikan sebagai ancaman. Hal-hal kecil seperti perbedaan tradisi atau pendapat dapat dibalut prasangka dan emosi hingga berpotensi memicu konflik sosial.

Hj. Siti Yuliati menambahkan, ketika toleransi dirawat dengan baik, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai kekuatan. Masyarakat akan menjadi lebih tenang, saling percaya, dan mampu bekerja sama secara produktif demi kebaikan bersama.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....