Penguatan Moderasi Beragama Dimulai dari Pendidikan

  • 10 Des 2025 04:18 WIB
  •  Tahuna

KBRN, Tahuna: Pemahaman mengenai moderasi beragama di lingkungan pendidikan dinilai terus mengalami perkembangan positif. Hal ini terlihat dari meningkatnya sikap saling menghormati dan menghargai di antara peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas, meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyudi Hapit, S.Pd., salah satu Tenaga Pendidik di Kabupaten Kepulauan Sangihe, dalam program Moderasi Beragama di Prosatu RRI Tahuna, Selasa (9/12/2025). Ia menuturkan bahwa pengalaman langsung sebagai guru membuatnya melihat dinamika keberagaman yang tumbuh sehat di sekolah.

Menurut Wahyudi, ruang lingkup keberagaman di sekolah semakin majemuk. Para siswa berasal dari berbagai keyakinan, termasuk agama kepercayaan. Namun kondisi ini justru membentuk interaksi yang positif karena para peserta didik mampu menjalin hubungan yang saling menghargai.

Ia menilai bahwa meskipun secara teori para siswa belum sepenuhnya mendalami konsep moderasi beragama, tetapi secara praktik mereka sudah mampu mengimplementasikan nilai-nilai keberagaman tersebut. Hal ini tampak dari cara mereka bersikap, berinteraksi, serta menjaga keharmonisan di lingkungan sekolah.

Wahyudi menambahkan bahwa khusus di Kabupaten Kepulauan Sangihe, tren perundungan yang terjadi di tingkat nasional tidak ditemukan secara signifikan di sekolah-sekolah setempat. Kondisi ini menurutnya menjadi indikator bahwa nilai moderasi beragama telah terserap dengan baik oleh para peserta didik.

Ia menjelaskan bahwa sikap saling menghormati, saling menghargai, serta kemampuan membangun hubungan yang harmonis antar siswa semakin terlihat kuat. Perkembangan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap pentingnya menjaga keberagaman dan hidup berdampingan secara damai.

Lebih lanjut, Wahyudi mengatakan bahwa moderasi beragama merupakan konsep nasional yang diluncurkan Kementerian Agama sekitar lima hingga delapan tahun lalu. Program tersebut kemudian diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Kepulauan Sangihe, melalui berbagai pendekatan edukatif.

Ia mengakui bahwa penyebaran informasi terkait moderasi beragama belum sepenuhnya menjangkau daerah-daerah terpencil. Namun secara umum, konsep ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat luas dan mulai diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan sosial.

"Konsep moderasi beragama sendiri bertujuan membangun pemahaman tentang nilai-nilai keagamaan yang menekankan kedamaian, saling menghargai, dan saling menghormati antar pemeluk agama. Pemahaman tersebut diharapkan mampu membentuk suasana harmonis di tengah keberagaman agama, sosial, maupun budaya," tambahnya.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....