2 Gunungan Sekaten Ludes Diserbu Pengunjung Sebelum Didoakan

  • 16 Sep 2024 14:19 WIB
  •  Surakarta
KBRN, Surakarta: Berburu berkah gunungan sekaten masih menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Grebeg Sekaten (Puncak Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW) di Masjid Agung Surakarta.

Terbukti dua dari empat pasang gunungan sekaten ludes direbut pengunjung sebelum dua dipanjatkan para ulama Keraton dalam acara grebeg Senin (16/9/2024).

Pantauan rri.co.id ribuan pengunjung mendatangi puncak Grebeg Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta yang berlangsung di Masjid Agung.

Grebeg Sekaten ini menjadi yang paling ramai dari beberapa tahun belakangan. Lantaran bertepatan dengan libur panjang dan juga Maulid Nabi bertepatan hari Senin 12 Rabiul Awal, atau hari kelahiran kanjeng nabi Muhammad.

Pengunjung yang merupakan wisatawan dari berbagai daerah tiba di tempat acara sekitar pukul 09.00 WIB. Mulai pukul 10.00 ribuan pengunjung telah memadati area serambi masjid agung dan halaman. Padahal dua pasang gunungan yang diusung puluhan abdi dalem baru tiba di halaman masjid sekitar Pukul 11.00 WIB.

Saat KRA Rizki Baruna Aji Diningrat akan menyampaikan utusan PB XIII kepada Penghulu Tafsir Anom Keraton di Masjid Agung pengunjung sekaten sudah merangsek mendekati dua gunungan. Alhasil sebelum doa dipanjatkan, dua gunungan tersebut sudah ludes dibuat rebutan pengunjung.

Gunungan jalu dipikul puluhan abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat di masjid Agung Surakarta dalam tradisi Grebeg Sekaten 2024, Senin (16/9/2024). Dok Mulato RRI

Salah satu pengunjung Rusmiyati rela datang bersama keluarga dari Blitar, Jawa Timur hanya untuk menyaksikan Grebeg Sekaten. Dirinya sengaja datang untuk mencari berkah dari kegiatan tersebut.

"Saya datang bersama rombongan kakak adik dan keponakan. Saya belum pernah melihat Grebeg Solo ini, saya mencari berkah dari kegiatan ini," ucap perempuan 50 tahun itu.

Sementara itu penghulu Tafsir Anom Keraton Surakarta KH Muhammad Muhtarom menyampaikan, pada dasarnya gunungan yang merupakan wujud syukur itu dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Namun sayang jumlah gunungan tak sebanding dengan pengunjung sehingga rebutan pun fak terelakkan.

"Sekaten bagian dari budaya Keraton dari Demak, bahwa Sekaten dilaksanakan sepekan kemudian ditutup dengan bentuk syukur. Keraton membawa dua pasang gunungan ke masjid Agung Surakarta kemudian didoakan oleh para ulama kemudian dibagi. Yen wes kadonganan baginen kang waroto. (Kalau sudah didoakan bagikan secara merata). Namun jamaah (pengunjung) yang sedemikian banyaknya kalau tidak sempat dibagi dengan merata intinya dibagikan merata," ucap Muhtarom.

Tradisi sekaten merupakan acara tahunan yang rutin diselenggarakan di Kota Solo. Sekaten sarat akan simbol-simbol, sehingga tak hanya untuk pemaknaan tradisi Jawa juga digunakan sarana penyebaran agama Islam.

Sekaten di Keraton Surakarta dimulai sepekan yang lalu dengan dikumandangkannya gamelan Sekaten Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Bangsal Sekati Masjid Ada. Kemudian juga diwarnai pesta rakyat dengan aneka hiburan dan pasar malam. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....