Menjaga Warisan Leluhur: Racikan Jamu Tradisional Pasar Gede Solo
- 30 Sep 2026 08:56 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta -Aroma khas rempah langsung menyambut ketika kita memasuki Pasar Gede Solo. Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional, jejak warisan leluhur masih mudah ditemukan. Jahe, kunyit, temulawak, kencur, hingga beragam daun dan akar, tersusun di salah satu sudut pasar. Di tempat inilah, Nyonya Wahyuni mempertahankan tradisi meracik dan menjual jamu yang telah diwariskan keluarganya selama beberapa generasi.
Wahyuni merupakan generasi ketiga dalam usaha jamu keluarganya. Sang kakek telah memulai usaha sejak era 1950-an. Kemudian diteruskan oleh ibunya pada era 1980 hingga 1990-an, sebelum akhirnya Wahyuni melanjutkannya sejak tahun 2000-an. Dari kecil, ia sudah terbiasa membantu berjualan sepulang sekolah. Pengetahuan tentang rempah pun dipelajari secara langsung dari keluarganya.
"Ini kan sudah turun-temurun dari Mbah saya. Ini sudah ke-3, generasi ketiga. Dulu Mbah, terus Ibu, terus saya," ujar Wahyuni kepada rri.co.id Selasa 29 September 2026.
Di lapaknya, berbagai jenis rempah dan tanaman herbal tersusun dalam bentuk segar maupun kering. Ada jahe, kunyit, temulawak, dan kencur. Ada pula daun tempuyung, keji beling, sukun, hingga alang-alang yang secara tradisional digunakan dalam berbagai racikan jamu. Untuk kebutuhan tertentu, Wahyuni meracik bahan sesuai pengetahuan tradisional yang diwariskan keluarganya.
"Kalau itu daun-daunan juga ada. Ada jamu untuk ginjal itu daun tempuyung, daun keji beling, sukun, alang-alang. Kalau untuk pegal linu sambiroto,"ujar Wahyuni lebih lanjut.
Bagi Wahyuni, mengenali bahan jamu bukan sekadar mengetahui nama tanaman. Ia juga harus memahami cara memilih, menakar, dan memadukan bahan agar sesuai dengan racikan yang dipesan pelanggan. Tradisi itu kini tidak hanya hadir dalam bentuk bahan mentah. Wahyuni bersama keluarganya juga membuat berbagai racikan siap seduh yang lebih praktis.
"Sudah dikemas-kemas. Bikin wedang asam urat, wedang pahit, wedang daun sirih, wedang sesak napas. Jadi sekali seduh, takarannya sudah, “ujar Wahyuni.
Racikan tersebut dikemas dalam beberapa sachet sehingga lebih mudah dibawa dan diseduh. Selain jamu untuk diminum, lapaknya juga menyediakan sejumlah produk tradisional lain, seperti lulur rempah, bedak tradisional, hingga minyak kelapa untuk kebutuhan perawatan dan pijat.Bahan bakunya didatangkan dari berbagai daerah.
Rimpang dan daun kering antara lain diperoleh dari kawasan Solo Raya hingga Jawa Timur. Sementara sejumlah rempah seperti cengkeh, jinten, dan kapulaga juga didatangkan dari luar Jawa, termasuk Sumatra dan Kalimantan.
Namun, mempertahankan usaha tradisional di tengah perkembangan zaman bukan tanpa tantangan. Penjualan melalui platform digital membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan produk rempah dan jamu tanpa harus datang ke pasar. Bu Wahyuni merasakan perubahan itu dalam aktivitas dagangnya.
"Hambatannya ini agak sepi. Masalahnya ini sepi itu banyak online-online itu loh. TikTok-TikTok itu ya, kunyit aja dimasukkan TikTok, jahe dimasukkan TikTok," ujar Wahyuni
Meski demikian, pelanggan tetap datang ke Pasar Gede. Sebagian bahkan memesan racikan untuk dikirim ke luar kota melalui jasa ekspedisi.
Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, keberadaan lapak Wahyuni menunjukkan bahwa pasar tradisional masih memiliki ruang untuk mempertahankan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. ( Lidia )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....