Pesona Sky Hill Kemuning Karanganyar Menghidupkan Ekonomi Warga Lokal

  • 27 Jul 2026 21:09 WIB
  •  Surakarta

RRI,CO.ID, Surakarta - Suasana dingin khas kawasan pegunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata di lereng Lawu.

Di tengah ramainya wisatawan, deretan para pedagang yang menjual makanan dan minuman serta oleh - oleh produk lokal juga mewarnai suasana di kawasan wisata Lereng Lawu tepatnya Sky Hill Kemuning .

Uniknya para pedagang hanya warga lokal dari Desa Sumbersari di kawasan wisata tersebut. Berbagai makanan dan minuman yang dijajakan pedagang lebih pada makanan yang dapat menghangatkan tubuh seperti secangkir kopi hangat, semangkuk pentol kuah, hingga makanan sederhana lainnya .

Salah satunya adalah warung milik Ani, warga asli setempat yang telah berjualan hampir 15 tahun. Sebelum kawasan tersebut ditata dan hadirnya jembatan kaca, Ani berjualan menggunakan sepeda namun kini, ia menempati warung yang telah ditata pengelola.

Menurut Ani beragam menu yang ia tawarkan, mulai dari nasi ayam, nasi geprek, nasi pecel, pecel ayam, mi instan, kopi, minuman, hingga pentol kuah.

Namun, di tengah udara yang dingin, pentol kuah menjadi salah satu menu yang paling banyak diminati wisatawan.

“Saya jualan di sini hampir 15 tahun. Sebelum ada jembatan kaca. Di seberang jalan terus pindah ke sini karena ada penataan. Kemudian yang jualan di sini rata-rata asli warga Sumbersari," ujar Ani kepada RRI Minggu, 26 Juli 2026.

Dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa sambil berjalan, makanan hangat ini menjadi pilihan praktis bagi pengunjung.

Sementara untuk oleh-oleh, teh menjadi salah satu produk yang banyak dicari wisatawan. Teh tersebut merupakan produk olahan dari industri rumahan masyarakat setempat.

Bagi Ani, keberadaan kawasan wisata menjadi berkah tersendiri. Apalagi, sejak dahulu kawasan tersebut memang ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat libur Lebaran dan Tahun Baru.

Kini, aktivitas berdagang juga menjadi pilihan bagi sebagian warga. Mereka yang sebelumnya bekerja sebagai petani mulai beralih mencari penghasilan dari sektor perdagangan dan jasa wisata.

Namun, keberadaan para pedagang tetap diatur agar kawasan wisata terlihat lebih rapi. Pedagang yang sebelumnya telah memiliki warung mendapatkan tempat untuk berjualan, sementara pedagang kaki lima juga diarahkan menempati lokasi yang telah disiapkan.

Ani mengaku, saat kunjungan wisatawan meningkat, omzet dagangannya bisa mencapai sekitar satu juta rupiah dalam sehari. Namun, angka tersebut masih merupakan pendapatan kotor dan harus dikurangi berbagai kebutuhan operasional.

Meski demikian, ia bersyukur bisa mendapatkan penghasilan dari ramainya wisatawan.

“ Saya kebetulan enggak punya ladang. Paling pelihara sapi lah satu .Berkah berkah sekali. Tapi kan sebelum ada jembatan pun sudah rame . Kalau Lebaran apa Tahun Baru gitu pasti selalu macet ,” ucap Ani .

Di balik gemerlap destinasi wisata dan berbagai fasilitas baru yang menarik perhatian pengunjung, ada cerita warga lokal yang ikut tumbuh bersama geliat pariwisata.

Bagi mereka, wisata bukan hanya tentang pemandangan indah dan pengalaman bagi wisatawan. Lebih dari itu, geliat pariwisata menjadi sumber penghidupan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. (Lidia )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....