Kenali "Bali Belly", Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Wisatawan
- 30 Jun 2026 14:32 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID SURAKARTA - Bali selalu menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, di balik pesona pantai dan wisata kulinernya, ada satu istilah yang cukup dikenal di kalangan pelancong, yakni Bali Belly. Meski terdengar unik, Bali Belly sebenarnya bukan penyakit khas Bali, melainkan sebutan populer untuk traveler's diarrhea atau diare yang dialami wisatawan akibat perubahan lingkungan dan paparan kuman baru.
Bali Belly umumnya terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit. Penyebab yang paling sering ditemukan antara lain bakteri Escherichia coli (E. coli), Salmonella, dan Campylobacter. Selain itu, infeksi juga dapat dipicu oleh virus seperti norovirus dan rotavirus, maupun parasit seperti Giardia dan Cryptosporidium.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan Bali karena banyak wisatawan asing belum memiliki kekebalan terhadap flora bakteri lokal. Di sisi lain, kualitas air minum juga menjadi perhatian. Air keran di Bali tidak dianjurkan untuk diminum langsung sehingga kontaminasi dapat terjadi melalui es batu, buah, atau sayuran yang dicuci menggunakan air yang belum diolah dengan baik.
Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam laman resminya (keslan.kemkes.go.id, kondisi iklim tropis yang panas dan lembap turut mendukung pertumbuhan bakteri pada makanan yang tidak disimpan secara benar. Saat musim hujan, risiko penularan juga meningkat karena air hujan dapat membawa limbah dan bakteri ke sumber air, mempercepat pertumbuhan patogen, serta memengaruhi sistem sanitasi di beberapa wilayah.
Selain itu, wisata kuliner menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Makanan kaki lima yang menggugah selera memang menjadi daya tarik tersendiri, namun wisatawan disarankan memastikan makanan dimasak hingga matang sempurna, terutama saat mengonsumsi seafood maupun sayuran mentah.
Gejala Bali Belly biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 24 jam setelah terpapar. Keluhan yang sering dirasakan meliputi diare berulang, kram perut, perut kembung, mual, muntah, demam ringan, hingga tubuh terasa lemas akibat dehidrasi.
Untuk mengurangi risiko, wisatawan disarankan menerapkan prinsip "Boil it, Cook it, Peel it, or Forget it", yakni hanya mengonsumsi makanan yang dimasak matang, memilih buah yang dikupas sendiri, menggunakan air minum kemasan bahkan untuk menyikat gigi, serta rutin mencuci tangan atau memakai hand sanitizer sebelum makan. Jika mengalami gejala, langkah utama adalah menjaga asupan cairan dengan oralit atau minuman elektrolit. Bila keluhan tidak membaik atau disertai demam tinggi dan diare berdarah, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....