Objek Wisata di Sragen Hanya Dikunjungi 12.000 Wisatawan Selama Lebaran
- 12 Apr 2025 11:08 WIB
- Surakarta
KBRN,Sragen: Tempat Wisata di Kabupaten Sragen kurang diminati pengunjung pada momentum Libur Lebaran 2025. Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sragen mencatat total 12.000 pengunjung di berbagai destinasi wisata. Jumlah itu kalah dengan wisata Sendang Kun Gerit yang dikelola Bumdes.
Data Disparpora Kabupaten Sragen mencatat total 12.000 pengunjung di berbagai destinasi wisata selama periode 21 Maret - 7 April 2025. Data tersebut mencakup objek wisata yang dikelola pemerintah daerah dan desa, seperti kolam renang Kartika, Gunung Kemukus, Sangiran, dan Bayanan.
Jumlah itu kalah jauh dengan obyek wisata Sendang Kun Gerit yang dikelola Bumdes dengan kunjungan hampir tiga kali lipat lebih banyak atau tiga puluh ribuan pengunjung.
Kepala Disparpora Sragen, Joko Hendang Murdhono, mengungkapkan Total pendapatan yang berhasil diraup mencapai Rp127.186.000 per rekap data Senin (7/4). Dia menjelaskan kunjungan wisata mulai meningkat signifikan pasca Idulfitri, khususnya pada rentang 1-7 April, dengan puncaknya terjadi pada 2-6 April.
“Tanggal 21 Maret hanya sekitar 85 pengunjung, lalu naik ke 150 orang pada 22 Maret karena masih Puasa. Setelah Lebaran, baru terlihat lonjakan yang cukup signifikan,” ujar Joko, Jumat (11/4/2025).
Obyek wisata Museum Manusia Purba Sangiran Kabupaten Sragen masih menjadi jujugan wisatawan untuk edukasi saat momentum lebaran. (RRI Foto/Dok Disparpora Sragen)Meski mencatatkan angka kunjungan yang cukup baik, Joko menilai destinasi wisata yang dikelola pemerintah daerah masih kalah dibanding yang dikelola Bumdes. Menurut Joko, pengelolaan oleh swasta cenderung menghasilkan fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan yang dikelola pemerintah. “Kalau kita bandingkan dengan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), perkembangannya jauh lebih besar,” ucap dia.
BUMDes di Sragen, yang mengelola aset wisata seperti Kolam Keceh di Kun gerit, Gemolong, berhasil mencatatkan kunjungan hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan DTW pemerintah daerah. Salah satu alasan tak mampu bersaing dengan wisata yang dikelola swasta yakni terkendala minimnya sarana dan prasarana (sarpras).
“BUMDes punya investasi dari masyarakat, baik berupa uang maupun lahan. Penyertaan modal dari pemerintah desa justru tidak dominan,” ungkap Joko.
Hal serupa juga dialami kolam renang Kartika yang masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.
"Di Gunung Kemukus, misalnya, cuaca panas menjadi tantangan bagi wisata keluarga di siang hari. Sementara di Bayanan, sarpras untuk kegiatan outbond cukup besar, tapi kami terkendala anggaran,” jelasnya.
Di sisi lain, bagi hasil dari Sangiran diatur dengan porsi 50 persen untuk Pemkab Sragen, 20 persen untuk Provinsi Jawa Tengah, dan 30 persen untuk Kementerian Kebudayaan.
“Wisata edukasi seperti Sangiran biasanya hanya dikunjungi sekali, beda dengan wisata rekreasi seperti kolam renang yang bisa rutin didatangi seminggu sekali,” ucap Joko. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....