Sejarah di Balik Kemegahan Masjid Agung Surakarta

  • 29 Mar 2025 13:49 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Solo memiliki masjid-masjid kuno yang penuh sejarah, salah satunya adalah Masjid Agung Surakarta. Masjid tersebut memiliki nama lain, yaitu Masjid Ageng Keraton Hadiningrat.

Masjid bersejarah yang ada di kawasan Keraton Surakarta itu memiliki arsitektur yang menarik untuk dikaji serta memiliki peran yang penting dalam penyebaran agama Islam di Tanah Jawa. Prasasti yang terdapat di dinding luar ruangan utama masjid menyebutkan, bahwa Masjid Agung Surakarta dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768.

Namun, ada kisah yang perlu diceritakan di balik kemegahan Masjid Agung Surakarta ini. Dilansir dari laman resminya (masjidagungsolo.com), Masjid Agung ini ternyata telah dirintis pada masa Paku Buwana II .

Masjid yang dibangun Paku Buwana II di keraton barunya belum semegah yang dijumpai di barat Alun-Alun Keraton Surakarta Hadiningrat saat ini. Keberadaan Masjid Agung Surakarta memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah Keraton Kesunanan Surakarta Hadiningrat.

Saat itu, Keraton terletak di Kartasura. Kemudian, Keraton terpaksa dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 oleh Paku Buwana II sebagai imbas dari peristiwa Geger Pacina yang pecah tahun 1743.

Masjid Agung Surakarta (foto: dok. Masjid Agung Solo)

Pada saat itu, pemilihan lokasi untuk Keraton pun ada tiga pilihan, salah satunya Sala yang merupakan daerah raw-rawa. Sehingga saat pendirian Masjid pada masanya, Paku Buwono II hanya mendirikan terlebih dulu rangka kayu masjid dari Kartasura karena masih fokus beradaptasi dengan lingkungan Desa Sala yang dipenuhi rawa.

Paku Buwono II fokus melakukan penataan keraton yang baru serta mengatur manajemen pemerintahan selepas pemindahan ibu kota kerajaan. Kondisi inilah yang menyebabkan pembangunan Masjid Agung berjalan lamban.

Wujud bangunan masjid baru bisa dianggap siap digunakan kerabat istana bersama warga sekitar pada saat kepemimpinan Paku Buwana III (1749-1788). Kini, masyarakat dapat menyaksikan kemegahan Masjid Agung Surakarta yang telah dibangun oleh Paku Buwana III, bisa melihat secara langsung bagaimana bentuk benda bersejarah di Keraton Surakarta dan alat musik gamelan yang keramat.

Bahan bangunan Masjid Agung Surakarta menggunakan batu bata pada hampir seluruh bangunan induk. Corak Masjid Agung di Surakarta dipengaruhi oleh masjid lawas yang dijumpai pada trah Mataram Islam.

Masjid Agung Surakarta dirancang sama bentuknya dengan Masjid Demak yang berbentuk joglo dan beratap tajuk susun tiga. Hal itu melambangkan kesempurnaan kaum muslim dalam menjalani kehidupannya, yakni Islam, iman, dan ikhsan (amal).

Masjid dalam sejarah Keraton Kasunanan bukan sebatas sarana ibadah, namun bagian dari pusaka. Secara filosofi, Masjid menjadi simbol politis bahwa Susuhunan Paku Buwana memegang kekuasaan di bidang agama. (Dinar Rusydiana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....