Rescuer SAR: Pencarian Pendaki Hilang Utamakan Keselamatan Rescuer
- 30 Jan 2026 21:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pencarian pendaki gunung yang dilaporkan hilang di kawasan Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu, Karanganyar, masih terus dilakukan. Pencarian Pendaki Yazid Ahmad Firdaus (26),warga Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu memasuki perpanjangan masa pencarian yang kedua kalinya 29-31 Januari 2026 dengen tetap mengedepankan keselamatan Rescuer.
Menurut Yohan Tri Anggoro, Rescuer Mahir SAR Surakarta dalam Bincang Pagi Pro 1, Kamis, 29 Januari 2026, setelah operasi SAR dibuka, prinsip satu komando menjadi fondasi utama dalam setiap pergerakan di lapangan, di bawah Basarnas sebagai On Scene Commander, sementara unsur lain bergerak sesuai peran masing-masing. “Tanpa satu komando, operasi pencarian justru berisiko menimbulkan kekacauan dan membahayakan keselamatan tim penolong,” kata Yohan.
Lanjutnya, fase awal difokuskan pada pengumpulan data dan pemetaan. “Informasi awal itu mengenai jalur yang dipilih korban, perlengkapan yang dibawa, kebiasaan mendaki, hingga kondisi cuaca saat kejadian menjadi bahan utama untuk menentukan strategi pencarian yang paling rasional,” ucapnya.
Yohan mengatakan data LKP atau Last Known Position sebagai titik kunci dalam operasi SAR. “Ketika data tersebut minim atau tidak akurat, tim rescuer akan menggunakan pendekatan pengalaman lapangan, termasuk membaca pola perilaku pendaki yang kelelahan, kecenderungan mengikuti jalur air, atau memilih jalur pintas yang terlihat mudah namun berbahaya,” ujar Yohan. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan pencarian acak tanpa perhitungan.
Medan ekstrem dan cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan terbesar dalam pencarian pendaki hilang. Yohan menekankan bahwa sebelum mengirim tim ke sektor berisiko tinggi, pertimbangan keselamatan rescuer menjadi prioritas utama.
Setiap keputusan harus memastikan bahwa tim yang masuk memiliki peluang besar untuk keluar dengan selamat, karena dalam operasi SAR tidak dibenarkan menambah jumlah korban. Berbagai elemen dari Basarnas, BPBD, TNI,Relawan dan Masyarakat setempat masih berjuang mencari survivor bahkan membawa anjing K9 yang sempat cidera. Drone juga sudah disiapkan namun tidak bisa diterbangkan karena buruknya cuaca.
Yohan menyampaikan bahwa banyak kasus pendaki hilang berulang karena kesalahan yang sama, terutama saat fase turun gunung. Ia mengingatkan para pendaki untuk tidak meremehkan jalur turun, selalu membawa navigasi yang memadai, serta disiplin melapor dan mematuhi rencana pendakian.
“Pendaki harus bijak dengan alam, jangan meremehkan alam dan jangan sombong, intinya harus bijak dengan alam,” kata Yohan. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....