BPBD Karanganyar: Pendakian Aman di mulai dari Disiplin Prosedur
- 30 Jan 2026 21:38 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Operasi pencarian pendaki gunung yang dilaporkan hilang di kawasan Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu, Karanganyar, dilakukan melalui tahapan ketat dan terukur, setelah adanya laporan seorang Pendaki menghilang setelah terpisah dari rombongannya. Ketika upaya komunikasi awal tidak membuahkan hasil dan terdapat faktor risiko seperti cuaca buruk, jalur ekstrem, atau pendakian solo, laporan tersebut segera dinaikkan menjadi operasi SAR resmi.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, S.H., M.M dalam Bincang Pagi Pro 1, Kamis, 29 Januari 2026, setelah status operasi SAR ditetapkan, prinsip satu komando menjadi dasar utama pelaksanaan pencarian. Komando lapangan berada di bawah Basarnas sebagai On Scene Commander, sementara BPBD berperan mendukung dari sisi kewilayahan dan logistik untuk mencegah tumpang tindih peran dan meminimalkan risiko keselamatan, baik bagi korban maupun tim penolong di lapangan.
Pada fase awal pencarian, khususnya 24 jam pertama, tim SAR lebih banyak melakukan pengumpulan dan validasi data. “Data LKP atau Last Known Position menjadi elemen krusial dalam menentukan sektor pencarian,” kata Hendro.
Ketika data terbatas, tim SAR akan mengandalkan analisis perilaku pendaki, karakter medan, jalur air, serta pengalaman kasus serupa yang pernah terjadi di wilayah pegunungan.“BPBD Karanganyar langsung mengaktifkan posko operasi sejak hari pertama pencarian, yang berfungsi sebagai pusat koordinasi lintas instansi, sekaligus titik distribusi logistik, pengaturan relawan, dan pengelolaan informasi,” ujar Hendro.
Dukungan wilayah, termasuk akses jalan, komunikasi dengan pemerintah desa, dan keterlibatan masyarakat lokal, menjadi bagian penting agar operasi SAR dapat berjalan efektif. Namun demikian, operasi pencarian di wilayah pegunungan memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika berlangsung lebih dari satu hari.
“Kondisi cuaca yang cepat berubah, medan yang sulit, serta keterbatasan logistik menjadi kendala utama,” ucap Kepala Pelaksana BPBD Karangnyar tersebut. Selain itu, tekanan psikologis dari keluarga korban dan perhatian publik juga harus dikelola dengan baik agar tidak mengganggu fokus tim di lapangan.
Terkait transparansi informasi, BPBD bersama Basarnas menerapkan pola komunikasi satu pintu. Hendro menegaskan, setiap perkembangan pencarian disampaikan secara berkala kepada publik dengan tetap mengedepankan data yang terverifikasi.
Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya spekulasi serta informasi simpang siur yang justru dapat menghambat proses pencarian. Hendro Prayitno menekankan pentingnya kesadaran keselamatan bagi para pendaki.
Ia mengingatkan agar pendaki selalu mematuhi prosedur pendakian, tidak meremehkan jalur turun, serta memastikan kesiapan fisik, mental, dan navigasi. “Pendaki harus sadar kemampuan diri, membawa bekal cukup dan kenali medan dengan baik,” katanya. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....