Pra Lansia dan Lansia Apa Saja Bedanya?

  • 18 Okt 2025 13:46 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Setiap orang pasti akan sampai pada masa, rambut mulai memutih dan langkah menjadi sedikit lebih pelan. Namun, menjadi tua bukan berarti berhenti aktif , justru ini adalah masa menikmati hidup dengan lebih tenang dan bijak, sehingga pra lansia juga perlu lebih menjaga kesehatan.

Di acara jagongan “Cegah Lemah dan Loyo Lansia Dengan Gizi yang Tepat" yang dipandu oleh Fitria Trisna membahas dalam dunia kesehatan dan sosial, dikenal dua tahap menuju masa tua, yaitu pra lansia dan lansia. "Ini penting diketahui siapapun, untuk mempersiapkan diri jelang lansia," kata Agnes Sriwidayati, A.Md.G, Nutrisionis Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta.

Pra lansia (Usia 45-50 Tahun)

Pra lansia bisa dibilang masa “persiapan menuju usia emas”. Pada rentang umur 45 hingga 50 tahun, tubuh mulai mengalami perubahan alami. Energi mungkin tak sekuat dulu, metabolisme menurun, dan kadang mulai muncul keluhan seperti pegal, cepat lelah, atau gangguan tidur.

Meski begitu, masa ini bukan akhir dari produktivitas. Justru sebaliknya — ini saat yang tepat untuk lebih memperhatikan gaya hidup. Mulai dari menjaga pola makan, rajin bergerak, hingga rasa kesepian bisa menjadi hal yang perlu dihadapi. Karena itu, menjaga Kesehatan fisik menjaga kesehatan fisik dan mental tetap menjadi kunci utama.

Lansia (Usia 50-70 Tahun)

Memasuki usia 50 tahun ke atas, seseorang sudah tergolong lansia atau lanjut usia. Biasanya, ini adalah masa di mana banyak orang mulai menikmati waktu bersama keluarga, menjalani hobi, atau menikmati masa pensiun.

Namun, tantangan di masa lansia juga tak sedikit. Penurunan fungsi tubuh, penyakit degeneratif, hingga rasa kesepian bisa menjadi hal yang perlu dihadapi. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental tetap menjadi kunci utama. Aktivitas sosial, olahraga ringan seperti jalan pagi atau senam, serta menjaga pola makan sehat dapat membantu lansia tetap aktif dan bahagia.

Baik pra lansia maupun lansia, keduanya merupakan masa yang berharga. Bukan waktu untuk berhenti, melainkan waktu untuk menikmati hasil perjalanan hidup sambil tetap menjaga diri. Dengan gaya hidup sehat, dukungan keluarga, dan pikiran positif, masa tua bisa menjadi masa yang penuh kebahagiaan dan makna.

(Alifanazwa Azzahra Noor - Universitas Muria Kudus / Sahabat Magang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....