Memahami Pawukon Dalam Budaya Jawa
- 25 Sep 2024 16:25 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Pawukon merupakan bagian dari kalender Jawa, yang bisa disebut waktu selama seminggu berawal dari Ahad sampai Sabtu atau juga bisa disebut dengan satu Wuku. Istilah Pawukon juga digunakan sebagai patokan siklus alam, atau bisa juga dikatakan ilmu titen manusia yang hadir secara turun temurun jauh sebelum era Hindu menyebar di tanah air.
Filolog Museum Radya Pustaka Solo, Totok Yasmiran dalam siaran Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, mengatakan wuku merupakan kata dasar dari Pakuwon yang mengambarkan watak/karakter seseorang.
"jika akan berbicara tentang wuku, harus paham dulu makna dari wuku. Wuku merupakan kata dasar dari Pa-wuku-an/Pawukon, dalam kamus bahasa Jawa disebut dengan ijen-ijen. Wuku diartikan sebagai penggambaran watak/karakter dari individu" kata Totok, Selasa (24/9/2024).
Menurutnya, ketika belajar tentang wuku bisa difungsikan untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Karakter seseorang bisa dipengaruhi oleh lingkungan, dari kapan ia dilahirkan kemudian ada peran besar waktu/calon jagad kawruh Jawa sehingga muncul istilah wuku tersebut. Istilah wuku merupakan sebutan waktu yang lamanya seminggu (7 hari), berawal dari Ahad berakhir Sabtu.
"Jumlah wuku sendiri ada 30, lebih banyak dibandingkan dengan zodiak (ilmu perbintangan) yang berjumlah 12. Jadi, karakter manusia bisa dikelompokkan menjadi 30. Cara perhitungannya, siklus wuku yang lamanya 7 hari ini dikalikan 30 (jumlah wuku), jadi 7x30 yaitu 210 artinya siklusnya ada 210 hari. Misalnya, dari wuku sinta akan kembali ke wuku sinta lagi membutuhkan waktu 210 hari atau sekitar 7 bulan," ucap Totok.
Lanjutnya, 30 wuku memiliki nama yang berbeda-beda, ada sinta, landep, wukir, kurantil, tolu, gumbreg, warigalit, warigagung, julungwangi, sungsang, galungan, kuningan, langkir, mandasiya, julungpujud, pahang, kuruwelut, marakeh, tambir, madangkungan, maktal, wuye, manahil, prangbakat, bala, wugu, wayang, kulawu, dukut dan watugunung. Wuku tersebut juga memiliki artinya masing-masing.
Wuku tersebut kemudian juga mengalami perkembangan, waktu dulu wuku hanya berwujud gambar. Dicontohkan, wuku sinta dilambangkan dengan gambar tokoh Sinta dalam pewayangan, yang ada umbul-umbul (bendera)nya dibagian belakang atau depan memiliki makna untuk mencerminkan watak dari masing-masing individu.
"Kita selaku orang Jawa sebisa mungkin harus melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Jawa, khususnya dalam Pawukon ini. Karena lewat Pawukon kita bisa mengenal diri sendiri dan orang lain, dan ini pun jangan dipakai untuk pegangan hidup sebagai harga mati tetapi hal ini untuk eling lan waspada juga untuk instropeksi diri," kata Totok.
(Fitria Trisna/Dedi Setiadi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....