Serap 2,1Juta Tenaga, Industri Mebel-Kerajinan Minta Perhatian Pemerintah
- 04 Des 2025 22:59 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, menegaskan bahwa industri mebel dan kerajinan tetap menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia. Industri tersebut mampu menyerap lebih dari 2,1 juta tenaga kerja dan menopang UMKM di seluruh daerah.
Namun tanpa keberpihakan pemerintah yang kuat, Indonesia terancam makin tertinggal dalam persaingan global yang semakin agresif. “Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami meminta kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar global yang tidak lagi fair,” tegas Sobur dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) HIMKI di Alila Hotel Solo, Kamis (4/12/2025).
Masuknya regulasi hijau seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) adalah keniscayaan. Namun HIMKI menolak apabila beban compliance dibebankan tanpa diferensiasi, terutama pada UMKM.
“UMKM tidak boleh menjadi korban transisi hijau. Pemerintah harus hadir sebagai fasilitator, bukan penonton,” ujar Sobur.
Karenanya HIMKI mendesak adanya fasilitas trace ability dan dokumentasi tunggal setara FSC. Pembiayaan dan pendampingan untuk sertifikasi. Harmonisasi aturan kayu tanpa duplikasi birokrasi.
Dikatakan Sobur, Industri mebel Indonesia kini menghadapi serbuan.Over-capacity China yang melakukan banting harga global. Bahkan kini Vietnam pemimpin perjanjian dagang di banyak pasar.
“Kalau kita tidak bergerak cepat, buyer global akan meninggalkan Indonesia bukan karena tidak bagus, tapi karena tidak kompetitif," katanya menandaskan.
Untuk itu HIMKI meminta tarif ekspor preferensial ke pasar utama. Penegakan aturan anti-dumping untuk impor unfair.
Meskipun bersaing dengan China dan Vietnam pengusaha tanah air tetap optimisme terhadap ekonomi kreatif Indonesia. Menurut Sobur, Indonesia unggul dalam kreativitas berbasis budaya atau diferensiasi yang tidak bisa ditiru negara lain.
“Desain dan craft adalah DNA bangsa ini. Kita punya cerita, identitas, dan jiwa yang diakui dunia. Karena itu, HIMKI mendorong Center of Design Excellence untuk ekspor kreatif. Branding kuat Made in Indonesia. Kolaborasi desain–industri di setiap daerah," kata dia.
Selain itu menurut Sobur, ekosistem logistik nasional harus menjadi senjata. Dimana Patimban dan Kertajati harus menjadi pintu ekspor strategis untuk menurunkan biaya logistik yang masih tinggi.

Rakernas Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di Alila Hotel Solo, Kamis (4/12). Foto: RRI/Mulato Ishaan
Kemudian menambahkan layanan ekspor-impor ke Patimban. Menjalin konektivitas multimoda yang sinkron serta insentif bagi eksportir yang memanfaatkan hub nasional.
“Jawa Barat adalah sentra produksi. Logistiknya harus menjadi keunggulan, bukan hambatan.”
Dari Rakernas di Solo menelurkan tiga rekomendasi strategis HIMKI untuk Pemerintah. Yang pertama dibutuhkan kebijakan pro-industri dan pro-ekspor.
Lantas peningkatan daya saing teknologi, talenta, desain dan ekspansi pasar global dan konsolidasi distribusi. "Dengan dukungan itu, target ekspor: USD 6 miliar pada 2030 dan USD 10 miliar pada 2045 adalah sangat realistis," kata Sobur.
Dari Rakernas tersebut HIMKI menyerukan kepada pemerintah agar memberi karpet merah, untuk kemajuan industri mebel dan persaingan di pasar global.
"Kami siap mengibarkan karpet merah putih di pasar dunia. HIMKI berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah untuk menegakkan kedaulatan industri, memperluas lapangan kerja, dan memenangkan pertempuran ekonomi global dari Indonesia menuju dunia," kata Sobur menandaskan. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....