RRI.CO.ID, Surakarta – Pembaca rri.co.id terutama kawula muda bisa mememaknaikah kegiatan Grebeg Sekaten yang secara rutin digelar di Keraton Kasunan Surakarta. Jawabnya tentu tidak semua memahami.
Jika kita simak lebih mendalam dan kita dengarkan komentar pagi pada bulletin Warta pagi RRI Surakarta yang disampaikan Ketua Tim Pemberitaan RRI Surakarta, Agus Yoga Rabu (5 Agustus 2026), sekaten mengandung makna penyatuan nilai spiritual dan budaya lokal. Bahkan setiap prosesi melambangkan penghormatan kepada leluhur serta upaya mempererat hubungan sosial masyarakat.
Walaupun kelihatannya seru kata Agus Yoga, Grebeg Sekaten sebenarnya mempunyai makna filosofis yang dalam: Seperti Gunungan sama halnya Kemakmuran. Gunungan merupakan simbol rezeki dan kesejahteraan. Bentuk gunung dipilih karena gunung di Jawa dianggap sumber kesuburan. Syiar Islam melalui seni seperti Gamelan sekaten sebagai media alat dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat..
Terlebi Agus Yoga menerangkan, jika kita melihat lebih dalam giat budaya sekaten sebagai bentuk nguri-uri Tradisi, Nggayuh Berkah, Ngumpulke Warga_ Giat sekaten bukan hanya sekadar "pasar malam". Hal ini sebagai bentuk perayaan budaya paling tua di tanah Jawa. Gabungan antara syiar Islam, adat Keraton, dan ekonomi rakyat.
Untuk diketahui Sekaten dari kata "Syahadatain" atau Dua Kalimat Syahadat. Makna tersebut dahulu digunakan Sunan Kalijaga dan Wali Songo untuk syiar Islam di tanah Jawa melalui gamelan, pasar, dan hiburan. Jadi rakyat datang bukan karena paksaan, tetapi karena tertarik.
Adapun khas Sekaten Solo adanya pembagian gunungan yang berisi hasil bumi kepada masyarakat, yang simbolis sebagai bentuk berbagi rezeki dan berkah. Ini mencerminkan nilai-nilai keadilan sosial, di mana semua orang berkesempatan menikmati berkah perayaan.
Khas ;ain sekaten di Solo tempatnya di alun-alun Utara Kasunan Keraton Kasunan Solo dengan dibunyikannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dengan puncak grebeg Maulud Kirab Budaya
Prinsipnya mengumpulkan umat, nguri-uri budaya dan menggerakan ekonomi.
Selain nguri-uri dari budaya dan ekonomi,kenapa giat sekaten menjadi wisata buadaya yang kuat. Kegiatan tersebut yang jelas terlepas antara spiritual dan wisata. Masyarakat bisa ziarah ke Masjid Agung, mendengarkan gamelan sambil berbelanja. Secara otomatis pelaku UMKM seperti kuliber omzetnya bisa naik. Tak luput sebagai bentuk edukasi, dimana anak-anak akan mengenal gamelan, mainan atau dolanan tradisional tidak hanya bermain HP. Serta sebagai bentuk tidak ada jarak seperti dalam pesan Ojo Lali Leluhur,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....