Menakar Daya Tahan Koperasi Desa Merah Putih

  • 09 Jun 2026 19:35 WIB
  •  Surakarta

Oleh: BUDHI HARTANTO, S.T, MSi

Pegiat di Lontar Nusantara

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi, FEB Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

RRI.CO.ID, Surakarta - Program Koperasi Desa Merah Putih datang dengan ambisi besar. Pemerintah ingin desa tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, pemerintah menargetkan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia.

Program ini kini mulai bergerak dari konsep menuju implementasi. Pada Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasionalisasi 1.061 koperasi desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pemerintah menyiapkan koperasi sebagai pusat layanan ekonomi rakyat dengan distribusi sembako, pupuk, simpan pinjam, pergudangan, penyerapan hasil panen, hingga layanan kesehatan desa

Secara simbolik, ini langkah besar. Namun sejarah koperasi di Indonesia menunjukkan satu hal penting bahwa membentuk koperasi jauh lebih mudah dibanding mempertahankannya.

Banyak koperasi lahir dengan seremoni besar, tetapi mati perlahan setelah program berjalan. Ada yang tinggal papan nama, vakum akibat konflik internal, atau kehilangan anggota karena buruknya pengelolaan. Karena itu, tantangan terbesar Koperasi Desa Merah Putih bukan pembentukannya, melainkan daya tahan organisasi.

Dalam perspektif manajemen klasik, persoalan ini dapat dibaca melalui pendekatan POAC: planning, organizing, actuating, dan controlling.

Masalah pertama ada pada planning atau perencanaan. Banyak koperasi dibentuk terlalu cepat tanpa model bisnis yang jelas. Padahal desa memiliki karakter ekonomi berbeda-beda. Desa pertanian tentu tidak bisa diperlakukan sama dengan desa wisata atau kawasan industri kecil.

Koperasi membutuhkan roadmap usaha, analisis pasar, dan pemetaan potensi desa. Tanpa itu, koperasi hanya akan sibuk menjalankan administrasi tanpa aktivitas ekonomi yang kuat. Dalam teori kelembagaan, Max Weber mengingatkan pentingnya rasionalitas organisasi agar lembaga tidak terjebak sekadar formalitas birokrasi.

Masalah kedua adalah organizing. Ini problem klasik koperasi Indonesia, tentang kualitas sumber daya manusia. Pengurus sering dipilih karena kedekatan sosial atau politik, bukan kompetensi.

Pemerintah tampaknya mulai membaca persoalan ini. Saat ini sedang dilakukan rekrutmen nasional puluhan ribu calon manajer koperasi desa dengan sistem seleksi berbasis computer assisted test (CAT). Langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa koperasi modern membutuhkan pengelola profesional yang memahami manajemen usaha, logistik, hingga tata kelola organisasi.

Namun tantangannya tidak berhenti pada rekrutmen. Persoalan berikutnya adalah integritas, kualitas pelatihan, dan kemampuan menjaga koperasi tetap hidup setelah euforia program mereda.

Masalah berikutnya adalah actuating atau penggerakan. Koperasi tidak hidup dari gedung dan legalitas, tetapi dari partisipasi anggota. Banyak koperasi gagal karena masyarakat tidak merasa memiliki organisasi tersebut.

Ilmuwan sosial Robert Putnam menyebut kepercayaan dan partisipasi warga sebagai social capital. Tanpa modal sosial, koperasi hanya menjadi struktur formal tanpa denyut ekonomi nyata.

Terakhir adalah controlling atau pengawasan. Banyak koperasi runtuh bukan karena kekurangan modal, tetapi karena hilangnya kepercayaan anggota akibat lemahnya transparansi dan pengawasan keuangan.

Padahal kepercayaan adalah nyawa koperasi. Sekali masyarakat kehilangan kepercayaan, koperasi akan sulit bertahan.

Koperasi Desa Merah Putih memang memiliki peluang besar menjadi mesin ekonomi desa. Dukungan negara juga sangat kuat. Namun keberhasilan koperasi tidak pernah ditentukan oleh besarnya peluncuran program.

Koperasi hanya akan bertahan jika memiliki tata kelola sehat, pengurus profesional, partisipasi anggota yang kuat, dan aktivitas ekonomi yang benar-benar hidup.

Jika tidak, koperasi desa berisiko kembali mengulang pola lama, hanya besar saat diresmikan, menjadi lemah saat dijalankan, lalu perlahan hilang dari ingatan masyarakat.

Daftar Pustaka

1.Terry, George R. Principles of Management. 1972.

2.Weber, Max. Economy and Society. 1978.

3.Putnam, Robert D. Making Democracy Work. 1993.

4.Senge, Peter M. The Fifth Discipline. 1990.

5.Siaran Pers Presiden RI tentang Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....