Perlunya Mengembalikan Pelajaran PMP tanpa Doktriner
- 03 Jun 2026 07:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 menjadi momentum krusial untuk berkaca diri. Ketika kita bangga menyebut Pancasila sebagai ideologi bangsa, realita di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya.
Beberapa riak kasus intoleransi yang masih terjadi di berbagai daerah termasuk gesekan sosial yang sesekali muncul di wilayah Solo Raya menjadi alarm keras. Ini adalah bukti sahih bahwa Pancasila belum sepenuhnya membumi. Keadilan sosial, kemanusiaan yang beradab, bahkan esensi Ketuhanan yang saling menghargai, terkadang baru sebatas pemanis retorika di atas mimbar, belum menyentuh akar rumput.
Ironi ini kian diperparah dengan maraknya kasus kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah. Jika di lembaga pendidikan saja moralitas runtuh, ada yang salah dengan cara kita mewariskan nilai-nilai dasar negara ini.
Muncul pertanyaan: Apakah kita perlu mengembalikan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) seperti dulu?
Mungkin polanya tidak harus sama persis dengan masa lalu yang doktriner. Namun, substansi penguatan moral mutlak diperlukan. Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan materi ujian demi mengejar nilai angka. Ia harus menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Di sinilah peran guru dan dosen sebagai garda utama. Pendidik di Solo Raya, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, memikul tanggung jawab besar. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan agen pencerah yang harus memastikan anak didik tidak hanya tahu Pancasila, tetapi paham dan merasakan kehadirannya.
Solo Raya dikenal dengan narasi budaya luhurnya. Maka, momentum 1 Juni ini harus menjadi titik balik. Jangan biarkan Pancasila kalah oleh ego golongan dan degradasi moral. Mari bawa Pancasila keluar dari buku teks, lalu hidupkan ia dalam ruang kelas, lingkungan rumah, dan interaksi sosial kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....