Menjaga Marwah Halalbihalal: Antara Silaturahmi dan Ajang "Pamer Diri"
- 26 Mar 2026 05:49 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Halalbihalal telah menjadi kekayaan kultural yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Jika dulu ia identik dengan pertemuan Trah (garis keturunan), kini gelombangnya merambah masif ke ranah birokrasi, ikatan alumni, hingga komunitas hobi.
Secara sosiologis, ini adalah tanda positif bahwa kita adalah bangsa yang haus akan koneksi. Namun, di balik keriuhan prasmanan dan tawa basa-basi, ada pergeseran esensi yang cukup mengkhawatirkan.
Bagi sebagian kalangan, momen halalbihalal perlahan bergeser menjadi "panggung pamer" kesuksesan di perantauan. Bukan lagi tentang tabayyun (mencari kejelasan) untuk saling memaafkan, melainkan ajang adu gengsi.
Halalbihalal terkadang malah jadi ajang 'Pamer Materi'. Memamerkan simbol status atau pencapaian finansial secara berlebihan. 'Pamer Jabatan', menjadikan diskusi santai sebagai ajang validasi kekuasaan.
Malah terkadang kurang empati. Mereka Lupa bahwa di dalam lingkaran tersebut, mungkin ada kawan atau saudara yang sedang berjuang di titik terendah.
Alih-alih membawa pulang ketenangan hati, tidak sedikit peserta yang justru pulang dengan perasaan "kecil hati" atau sakit hati karena tekanan sosial dan perbandingan (social comparison). Hal ini tentu sangat ironis; sebuah tradisi yang dibangun untuk menyambung tali persaudaraan justru berisiko putus lewat cacat komunikasi dan rasa tidak nyaman.
Agar marwah halalbihalal tidak hilang ditelan gengsi, kita perlu melakukan kalibrasi niat. Fokus utama adalah membersihkan residu konflik selama setahun terakhir.
Di hadapan tradisi halalbihalal, idealnya tidak ada bos, bawahan, atau si kaya dan si miskin, yang ada hanyalah hamba yang saling membutuhkan maaf. Keberhasilan adalah syukur, bukan alat untuk merendahkan yang lain.
Halalbihalal harus tetap menjadi ruang aman (safe space) bagi siapa pun untuk pulang dan diterima. Jangan sampai ritual suci ini kehilangan jiwanya hanya karena ego yang ingin terlihat paling bersinar.
Mari kita jadikan momen ini untuk benar-benar kembali ke Fitrah atau suci hati, tulus memaafkan, dan mempererat persaudaraan tanpa sekat kasta sosial. Tradisi ini adalah kekayaan budaya kita. Mari kita jaga agar tetap menjadi jembatan, bukan tembok pemisah. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....