Rewang, Tradisi Gotongroyong Yang Tak Lekang Ditelan Jaman

  • 28 Apr 2024 15:29 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Surakarta : Salah satu gotong-royong yang tetap eksis dan melekat dikalangan masyarakat Jawa saat ini adalah tradisi rewang ketika ada warga atau tetangga sedang menggelar hajatan, baik berupa hajatan besar pernikahan atau sunatan.

Di kawasan Ngemplak Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Kota Solo, yang terletak dibagian timur utara yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar hingga kiini masih melestarikan tradisi rewangan.

”Rewang itu tradisi masyarakat sebagai salah satu cara membantu keluarga atau tetangga yang sedang mengadakan kenduri, pesta pernikahan, sunatan maupan perhelatan pesta adat lain dan harus membutuhkan bantuan tenaga untuk mengurus segala macam keperluan acara, terutama konsumsi dan juga jalannya acara,”ungkap Ari Kusworo Ketua RT di Kampung Ngemplak Solo, Sabtu (27/4/2024).

Meski terbilang sudah kuno ditengah perkembangan mudahnya mencari jasa katering dan juga wedding organization kegiatan rewang ini sebuah bentuk atau cerminan tradisi gotong-royong dan saling merasa memiliki, satu orang menggelar hajatan diibaratkan satu desa yang merasakan . Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dari nenek moyang, setiap ada warga yang hajatan atau punya gawe, rewang dan sinoman ini pasti ada.

Beberapa hal menarik dari rewang ini berupa adanya panitia dengan tugas masing-masing. Ada yang menjadi pemimpin dapur yang bisa dibilang sebagai tangan kanan tuan rumah dan bertanggung jawab terhadap kesuksesan jamuan makan selama pesta berlangsung. Sekitar dua pekan sebelum acara dimulai pemilik hajatan sudah mulai menghubungi tetangga yang bisa dipercaya dan berpengalaman mengelola perjamuan pesta.

Kemudian pemimpin dapur memiliki anggota yang mempunyai tanggung jawab berbeda beda. Sebagai contoh untuk urusan menyediakan semua bahan makanan, memasak nasi, mencuci piring serta perabotan, meracik bumbu, memasak, belanja ke pasar dan menggarap jajanan dan kue-kue untuk suguhan para tamu dikerjakan oleh ibu-ibu. Sedangkan bapak-bapak menyiapkan perabotan(bolopecah,tenda,kursi,tuwuhan ) , air untuk minuman yang biasa disebut jayengan dan kayu bakar.

Untuk kue-kue dan jajanan itu ada kekhususan sendiri pelaksananya, terutama untuk yang mengurusi pembuatan jenang (dodol), wajik (dodol dengan ketan), dan jadah (tetelan) dan juga lemper yang menjadi hidangan wajib saat pesta pernikahan adat Jawa.

"Kalau dulu kami hanya mengunakan kayu bakar, sekarang beberapa makanan diolah dengan menggunakan kompor gas. Mereka membuat tenda khusus yang berfungsi sebagai dapur umum. Satu dua hari sebelum pesta, tetangga terutama kaum ibu sudah berdatangan untuk membantu mempersiapkan berbagai jenis bumbu masakan dan juga bahan-bahan masakan.Tak jarang mereka membawa pisau, serbet, panci, wajan dan beberapa alat masak yang dibutuhkan dari rumah masing-masing," jelas Ari.

Yang lebih unik lagi saat pelaksanaan masak- memasak yang dipimpin oleh juru masak ada semacam kesepakatan atau bisa dibilang tatakrama tidak tertulis bahwa tuan rumah atau si empunya hajatan, tidak diperkenankan menengok atau keluar masuk tempat mereka memasak. Sebab, kepercayaan sudah diserahkan kepada panitia dan segenap warga atau tetangga yang rewang atau membantu mempersiapkan makanan dan kelangkapannya untuk sajian para tamu hajatan.

”Tuan rumah tidak boleh ikut campur, mereka diistimewakan. Tidak perlu ikutan masak atau menyiapkan semuanya. Tuan rumah menjadi penyambut tamu atau menemani tamu yang hadir,”terangnya.

Tidak ada uang jasa atau honor bagi warga yang ikut rewang ini, meski seharian bekerja membantu menyiapkan hajatan. Hanya saja, keluarga yang rewang ini mendapat kiriman makanan beserta lauk pauknya untuk keperluan makan di rumah.

”Mereka bekerja dengan sukarela. Memberi bantuan tanpa memperhitungkan waktu dan tenaga. Dan kita akan jaga terus tradisi ini,”katanya.

Diakhir perbincangan Ari Kusworo mengatakan banyak makna dan pelajaran di balik ‘rewang’.

“Tak hanya menunjukkan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan, namun para tetangga juga menunjukkan bagaimana semestinya gotong-royong dan sikap toleransi ini dirawat sebagai bagian dari budaya bangsa,” pungkas Ari. (Wiwik Martani)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....