Pentingnya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) Pada Usia Dini

  • 26 Apr 2024 15:00 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Surakarata; Masa usia dini adalah masa emas perkembangan anak. Semua aspek perkembangan dan kecerdasan distimulasi di tahapan ini dengan mudah. Anak-anak usia dini sedang melewati masa peka, egosentris, meniru, berkelompok, bereksplorasi. Namun,di masa ini juga mereka melakukan pembangkangan. Oleh karena itu, masa ini menjadi waktu yang tepat untuk membentuk kecakapan kehidupan bagi seorang anak, sehingga perlu adanya stimulasi, didikan,bimbingan dan asuhan serta pembelajaran yang meningkatkan kemampuan dan ketrampilan anak.

Pendidikan kecakapan hidup ini disebut juga “life skill”. Pendidikan kecakapan hidup (life skill) pada anak usia dini meliputi 4 (empat) kecakapan hidup, yaitu kecakapan personal, sosial, intelektual, dan vokasional. Empat kecakapan hidup pada anak tersebut akan membuat anak dapat mengurus diri mereka sendiri dan mandiri. Selain itu, anak juga diharapkan mampu membangun citra diri, menambah pengetahuan, dan akhirnya mampu menolong orang lain.

“Pendidikan life skill di kelas bisa menggunakan metode yang variatif biar lebih tepat sasaran. Ada metode bercerita, metode demonstrasi, metode sosio drama/ bermain peran, metode pemberian tugas, dan kegiatan bercakap-cakap,” ungkap Ning Kristiana, S.Psi, S.Pd. AUD, Kepala Sekolah Rumah Anak Darussalam, salah satu Sekolah Pendidikan Usia Dini berbasis Montessory saat dihubungi RRI Jum’at pagi (26/4/2024).

Sekolah yang terletak di Jalan Muria Mendungan dan dekat dengan Kampus UMS Surakarta tersebut menerapkan pendidikan kecakapan hidup (life skill) pada anak didiknya di setiap pembelajaran, baik Kelompok Bermain, Kelas TK A maupun TK B.

“Penerapan life skill di Darussalam itu melalui stimulasi kegiatan bermain di kelas Montessori, serta melalui kegiatan pembiasaan sehari-hari seperti: cuci tangan, toilet training, melepas sepatu - meletakkan pada tempatnya - dan memakai sepatu, menggosok gigi, dan lain-lain. Selain itu kami juga lakukan kegiatan kunjungan belajar,” ungkapnya.

Ning Kristiana menambahkan kegiatan “kunjungan belajar” menstimulasi keberanian anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

“Anak jadi berani untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan yang baru. Gambaran tentang lingkungan yang baru ditemuinya secara langsung, jadi membuat pengetahuan dan ketrampilan mereka bertambah. Pengalaman baru ini sangat bermakna untuk seusia mereka,” tuturnya. (Dinar Rusydiana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....