Kasus Kekerasan di Solo Makin Meningkat

  • 23 Apr 2024 22:28 WIB
  •  Surakarta

KBRN Surakarta: Pencegahan kekerasan di Kota Solo terus dilakukan salah satunya di Kantor Sekretariat Bersama Kota Surakarta dilakukan Launching Data Kasus dengan Tema Urgensi Sinergitas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan untuk Mewujudkan Surakarta Ramah Perempuan dan Peduli Anak.

Dalam paparannya salah satu narasumber dari Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spek-HAM) Kota Surakarta, Manager Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat (PPKBM), Fitri Haryani menyampaikan dalam lima tahun terakhir kasus kekerasan di Soloraya mengalami peningkatan.

Tercatat pada 2019 terdapat 68 kasus, pada 2020 terdapat 80 kasus, pada 2021 terdapat 71 kasus, pada 2021 terdapat 74 kasus, dan pada 2023 terdapat 75 kasus. Sedangkan tren kasus kekerasan pada 2023 didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.

“Trend kasus kekerasan di 2023 tertinggi ada pada kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT dari 75 kasus atau sekitar 59 persen, disusul kekerasan seksual ada 8,25 persen kemudian kasus dalam pacaran juga ada sejenis kasus Kekerasan berbasis gender online (KGBO) di dalamnya. Kemudian kekerasan pada gender seksual minoritas terjadi pada komunitas waria,” ucapnya dalam paparan Launching Data Kasus di Gedung Sekretariat Bersama Kota Surakarta, Selasa (23/04/24).

Secara keseluruhan terdapat 75 kasus kekerasan di Soloraya dan berdasarkan data Spek-HAM terdapat 52 kasus KDRT, 6 kasus kekerasan dalam pacaran, 11 kasus kekerasan seksual, dan 6 kasus kekerasan pada gender seksual minoritas.

Sedangkan bentuk kekerasan yang dialami korban pun beragam seperti korban mengalami kekerasan psikis 42 kasus, fisik 47, seksual 14, dan penelantaran 27 kasus, bahkan pihaknya mengatakan satu korban bisa mengalami lebih dari satu bentuk kasus kekerasan.

“Satu korban pun bisa mengalami lebih dari satu kasus, contoh dalam KDRT bisa mengalami kekerasan fisik, psikis, dan seksual hingga bisa mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS), katanya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Yayasan Kepedulian untuk Anak (Kakak), Surakarta, Shoim Sahriyati memaparkan selama tahun 2023 yayasan kakak mendampingi 59 anak, 21 kasus eksploitasi seksual dan 38 adalah kekerasan seksual.

“Perbedaannya jika kekerasan murni tidak ada imbalan tetapi jika komersial menggunakan imbalan, untuk itu kami memiliki program bagaimana kekerasan seksual tidak menjadi komersial,” ucapnya.

Dikatakan Shoim jika dilihat dari persentase jenis kelamin korban, kekerasan banyak menimpa kaum perempuan sebanyak 60 persen. Sedangkan dari dari sisi pendidikan rata-rata kasus menimpa anak SMP yang biasanya juga terjadi putus sekolah, karena hamil akan dinikahkan atau juga berkonflik dengan keluarganya.

“Kasus paling banyak ini di usia SMP ya mereka sudah seksual aktif. Nanti jika hamil biasanya akan putus sekolah karena pertama dinikahkan dengan dispensasi atau yang kedua mereka konflik dengan keluarga akhirnya putus sekolah,” ucapnya.

Launching data kasus yang dipaparkan ke publik sebagai upaya menekan kekerasan di Solo juga menghadirkan dari Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak atau UPTD PPA Kota Surakarta, Siti Dariyatini yang memaparkan penyebab terjadinya kekerasan. Launching diakhiri tanggapan komisi 4 DPRD Kota Surakarta Janjang Sumaryono. (Dania)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....