Water Talk, Air Membawa Perdamaian
- 23 Mar 2024 06:16 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta : Air dapat dijadikan alat perdamaian, mengingat hingga saat ini lebih dari tiga milyar manusia bergantung pada air hingga melampaui batas lintas negara, tetapi hanya 24 negara yang memiliki perjanjian terkait pengelolaan air.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS), Maryadi Utama menegaskan dengan adanya fakta ketergantungan manusia pada air, sehingga diperlukan perjanjian global untuk melindungi sumber air yang dapat memberikan pengaruh pada kesejahteraan, kesehatan, pangan perekonomian, energi dan lingkungan
“Kesejahteraan, kesehatan, pangan, perekonomian, energi dan lingkungan semua terikat erat pada siklus air yang dikelola dengan baik dan adil,” ucapnya dalam sambutan Water Talk Infrastruktur Air dan Krisis Iklim di Auditorium Kampus Universitas Surakarta (Unsa), Jumat (22/03/24).
Di Akhir sambutannya Maryadi menegaskan pentingnya pengelolaan air sehingga diperlukan perjanjian global, termasuk diperlukan kolaborasi pemangku kepentingan seperti Pemerintah Daerah, Masyarakat Peduli Lingkungan dan Perguruan Tinggi.
“Dengan dialog ini diharapkan adanya kerjasama antar pemangku kepentingan seperti Pemerintah Daerah, Masyarakat Peduli Lingkungan dan Perguruan Tinggi sehingga menciptakan kondisi air menjadi perdamaian dunia bukan sesuatu yang diperebutkan,” katanya.
Dikesempatan yang sama, Rektor Unsa, Astrid Widayani mengatakan Unsa telah menjalin kolaborasi yang baik antar BBWS dan Balai Teknik Sungai, sehingga kerjasama lintas sektor tersebut diharapkan dapat menjaga perdamaian melalui pengelolaan air yang berkelanjutan.
“Dalam hal ini Unsa merupakan bagian dari Universitas dimana selama ini BBWA telah menjalin kolaborasi dengan baik termasuk kampus-kampus lain serta Balai Teknik Sungai. Kerjasama lintas sektor ini diharapkan menjaga perdamaian melalui pengelolaan air yang berkelanjutan,” ucapnya.
Selain itu pihaknya juga mendukung tiga pesan kunci, bagaimana air dapat memicu konflik maupun membawa perdamaian, bagaimana kemakmuran dan perdamaian bergantung pada air, serta bagaimana air dapat membawa masyarakat keluar dari krisis.
“Unsa dengan Universitas lain akan mendukung tiga pesan kunci dalam hal ini, yang pertama air dapat memicu konflik maupun membawa perdamaian, bagaimana kemakmuran dan perdamaian bergantung pada air, dan bagaimana air dapat membawa kita keluar dari krisis,” katanya.
Di sisi lain dikatakan, peringatan hari air secara filosofi, diingatkan agar kedepannya kepedulian dalam menjaga lingkungan khususnya pengelolaan air, pengembangan, dan pemerataan infrastruktur yang akan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama.
“Ketika beranggapan air dapat membawa perdamaian, harus dimulai dari pemikiran kita, bahwa sifat air yang fleksibel dan adaptif, sehingga kita harus memahami filosofi air ini agar kita kedepannya dalam menjaga lingkungan khususnya bagaimana pengelolaan air, pengembangan, pemerataan infrastruktur air ini juga tentunya akan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama,” ucapnya.
Water Talk Infrastruktur Air dan Krisis Iklim dengan tema Air Untuk Perdamaian diikuti ratusan peserta dari mulai mahasiswa dan civitas akademika dari beberapa universitas, Himpunan Ahli Hidrolik Indonesia dan Asosiasi, serta dari BBWS.
Sedangkan narasumber yang dihadirkan diantaranya Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Maryadi Utama, Dosen Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Moh. Solichin, serta Komunitas Peduli Sungai Pasur institute, Rama Zakaria. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....