BPBD Sragen Sebut Potensi Longsor Akibat Erosi Bengawan Solo Tinggi

  • 17 Mar 2024 15:35 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Sragen: Tiga kepala keluarga di Kecamatan Tangen, Sragen harus mengungsi lantaran rumah mereka di bantaran Sungai Bengawan Solo berpotensi longsor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebut, potensi longsor akibat erosi aliran sungai Bengawan Solo maupun anak Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Sragen sangat besar.

Berdasarkan informasi BPBD Sragen, longsor akibat aliran Bengawan Solo terjadi di Dukuh Gilis Rt 07 Desa Katelan Kecamatan Tangen, Sragen, pada Jumat (15/3/2024) malam. Selain merobohkan sebagian rumah Darwati (65), longsor juga memaksa dua KK di sekitarnya harus mengungsi.

"Tanahnya amblas dan memakan sebagian rumah dari korban (Darwati) dan mengancam dua rumah lainnya. Untuk tiga kepala keluarga itu diungsikan, yang paling parah itu di tempat anaknya di Sambungmacan, yang dua itu ada rumah lain di kampung itu," kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sragen Giyanto, Minggu (17/3/2024).

Lokasi longsor tersebut, lanjut Giyanto sebenarnya bukan kali pertama. Dulu pernah longsor dan dibuat talud oleh BBWSBS (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo). Kemudian beberapa saat lalu talud amblas dan BBWSBS melakukan pengurukan lagi.

"Itu sudah beberapa kali, yang pertama saya datang ke sana bekas di talud oleh BBWSBS tinggi sekali. Kemudian saya ke sana talud itu ambles, kemudian baru-baru ini setelah ambles kejadian pertama, itu sudah dikasih urug lagi oleh BBWSBS. Kemudian beberapa hari kemarin longsor," kata Giyanto menjelaskan.

Dikatakan Giyanto sebelumnya kasus longsor akibat aliran sungai juga terjadi di Dukuh Getas, RT. 21, Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang, pada Jumat 8 Maret lalu. Satu rumah nyaris hanyut, lantaran aliran Sungai Wonotolo tersumbat barongan (rumpun bambu) yang tersangkut jembatan.

Giyanto mengakui, potensi longsor akibat erosi sungai Bengawan Solo dan anak Sungai Bengawan Solo di wilayah Sragen sangat besar. Mengingat Sragen dibelah aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, belum lagi anak-anak sungainya yang melintas di Bumi Sukowati.

Sejumlah wilayah merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Seperti Kecamatan Masaran, Plupuh, Sidoharjo, Tanon, Tangen, Gesi, Sragen dan Sambungmacan.

Menurut Giyanto longsor akibat erosi ini dipengaruhi oleh pola aliran sungai yang berubah, dampak dari adanya pembangunan talud. Aliran sungai kemudian mengikis pekarangan masyarakat di DAS Bengawan Solo, sekalipun sudah ditalud BBWSBS.

Sebuah jembatan di Desa Wonotolo Kecamatan Gondang ambrol akibat erosi aliran anak sungai Bengawan Solo. Foto Polsek Gondang

Sebelumnya Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Lilik Kurniawan disela menyerahkan bantuan ke Pemkab Sragen menyampaikan, bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Menurutnya semua stakeholder, semua Organisasi Perangkat Daerah punya peran masing-masing dalam pencegahan dan pengendalian bencana alam, termasuk banjir dan longsor.

"Karena kita sudah mitigasi melibatkan OPD di Sragen sehingga semua OPD tahu tugasnya tidak hanya BPBD. BPBD hanya satu dari sekian banyak OPD yang termasuk mengajak masyarakat sadar bencana. Mereka yang tinggal di KRB harus melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan sesuai dengan porsinya. Kalau masyarakat untuk menyelamatkan keluarganya, ketua RT RW Lurah, harus melakukan upaya untuk menyiapkan jalur dan tempat evakuasi," kata dia.

Berdasarkan pemetaan BPBD Sragen setidaknya ada 45 desa dari 14 Kecamatan masuk wilayah rawan banjir. Sementara itu tanah longsor berpotensi di 13 desa dari 4 Kecamatan yang memiliki kontur tanah dataran tinggi.

Belum lagi potensi longsor dari daerah aliran sungai Bengawan Solo yang melintas di sejumlah Kecamatan Kabupaten Sragen. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....