UMS dan Mahidol University Perkuat Fisioterapi Komunitas bagi Lansia dengan DM
- 06 Okt 2026 20:18 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Surakarta - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui tim pengabdian masyarakat internasional memperkuat upaya peningkatan kesehatan dan kemandirian lanjut usia (lansia) dengan diabetes melitus melalui program Active Living Across Borders: Empowering Older Adults with Diabetes Mellitus through Physical Activity Education and Indonesia-Thailand Knowledge Exchange.
Program tersebut mengintegrasikan edukasi aktivitas fisik, latihan praktis, pendampingan home program, serta pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Thailand. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan pelayanan fisioterapi dan kesehatan lansia berbasis komunitas sekaligus memperkuat kolaborasi internasional antara UMS dan Mahidol University.
Rangkaian kegiatan diawali dengan knowledge exchange di Thailand pada 25–29 Agustus 2026. Kegiatan dilaksanakan di sejumlah lokasi, yakni Community Laboratory Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Luang Por Poen Primary Health Care Centre, serta Bang Len Nara Phiron Rehabilitation Center.
Dalam kegiatan tersebut, tim UMS bersama mitra dari Mahidol University saling berbagi pengalaman mengenai pelayanan fisioterapi komunitas, promosi aktivitas fisik, pelayanan rehabilitasi, serta pengelolaan kesehatan lansia, khususnya bagi individu dengan diabetes melitus.
Dari UMS, kegiatan dipimpin oleh Dwi Rosella Komalasari, Ftr., M.Fis., Sp. Vest., Ph.D., yang memiliki keahlian di bidang rehabilitasi berbasis komunitas, khususnya pada populasi lansia dengan penyakit metabolik. Sementara dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, kolaborasi dipimpin Pakaratee Chaiyawat, Ph.D., yang memiliki keahlian di bidang rehabilitasi komunitas dan community service.
| Baca juga: Mahasiswa UMS Raih Silver Medal WICE 2026 |

“Selain berbagi pengalaman mengenai program pengabdian masyarakat, kedua institusi mendiskusikan persamaan dan perbedaan pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes melitus dan lansia di Indonesia dan Thailand,” ungkap Dwi Rosella, Selasa 06 Oktober 2026.
Pembahasan mencakup pelayanan kesehatan primer, pengelolaan diabetes, pelayanan berbasis komunitas, home-based care, long-term care, hingga pendekatan terhadap fungsi tubuh dan risiko jatuh pada lansia.
“Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama bagi kedua institusi untuk memahami bagaimana pelayanan kesehatan dan rehabilitasi dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan konteks budaya serta sistem pelayanan kesehatan di masing-masing negara,” paparnya.
Setelah rangkaian kegiatan di Thailand, program dilanjutkan di Indonesia pada 2–26 September 2026. Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Kartasura dan Puskesmas Pajang dengan melibatkan lansia peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).
“Rangkaian kegiatan di Indonesia meliputi asesmen awal, edukasi kesehatan, promosi aktivitas fisik, latihan keseimbangan, latihan daya tahan, serta latihan penguatan otot ekstremitas bawah. Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung berbagai latihan yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari,” tambahnya.
Latihan yang diberikan meliputi aktivitas berjalan, latihan keseimbangan statis dan dinamis, stepping, perubahan arah, sit-to-stand, serta latihan dengan tambahan tantangan sensorik, motorik, dan kognitif.
Program dirancang secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan peserta. Selain latihan yang dilakukan bersama, peserta juga mendapatkan home program sehingga aktivitas fisik yang telah dipelajari dapat dilanjutkan secara mandiri di rumah.
“Melalui kegiatan tersebut, lansia dengan diabetes melitus diharapkan semakin memahami pentingnya aktivitas fisik yang aman untuk menjaga keseimbangan tubuh, mempertahankan kekuatan otot, meningkatkan daya tahan, serta mengurangi risiko jatuh,” tegasnya.
Edukasi yang diberikan juga menekankan bahwa pengelolaan diabetes melitus tidak hanya bergantung pada pengobatan. Keterlibatan aktif pasien dalam mempertahankan fungsi tubuh dan menerapkan gaya hidup sehat secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas hidup.
Tidak hanya menyasar peserta lansia, program juga memberikan penguatan kapasitas kepada kader kesehatan masyarakat. Kader dibekali pengetahuan yang dapat mendukung edukasi dan skrining risiko jatuh pada penyandang diabetes melitus di lingkungan komunitas.

“Peran kader diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program di tingkat masyarakat, terutama melalui pemantauan aktivitas fisik, penguatan motivasi peserta, serta penyampaian kembali pesan-pesan kesehatan yang telah diberikan selama program,” ujarnya.
Program Active Living Across Borders juga dirancang sebagai langkah awal untuk membangun kolaborasi berkelanjutan antara UMS dan Mahidol University. Hasil knowledge exchange akan menjadi dasar dalam pengembangan kegiatan pengabdian masyarakat dan penelitian berikutnya, khususnya terkait aktivitas fisik, pencegahan risiko jatuh, rehabilitasi, serta pengelolaan kesehatan lansia dengan penyakit kronis.
Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui pemantauan home program yang lebih terstruktur, pendampingan jangka panjang, serta implementasi kegiatan yang dapat dilakukan secara paralel di Indonesia dan Thailand.
“Melalui program Active Living Across Borders, UMS tidak hanya memperkuat pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal, tetapi juga memperluas jejaring kolaborasi internasional dalam pengembangan pelayanan fisioterapi dan kesehatan lansia berbasis komunitas,” pungkasnya.
Program ini, lanjutnya, diharapkan dapat menjadi salah satu model kolaborasi lintas negara yang mengintegrasikan edukasi, aktivitas fisik, rehabilitasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung kehidupan yang lebih aktif, mandiri, dan sehat bagi lansia dengan diabetes melitus. (Edwi/Rill)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....