Karya Alumni ISI Solo Dipamerkan dengan Identitas Berbeda, Museum Beri Penjelasan

  • 02 Okt 2026 18:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Polemik mengenai identitas sebuah karya seni muncul setelah karya milik alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Junian Akbar Afero, dipamerkan di Tahir Solo Museum dengan keterangan identitas yang berbeda. Junian mengaku karya berjudul “Pencerah Batin” tersebut tercantum dalam pameran dengan judul “Refleksi Kehormatan Jiwa” dan nama pembuat Cerly Sudarta Martsidaun.

Junian merupakan mahasiswa Program Studi Kriya ISI Solo angkatan 2013. Ia mengungkapkan persoalan tersebut setelah mendapat informasi dari seorang teman yang melihat karyanya dipamerkan di Tahir Solo Museum.

Junian mengatakan, karya berbahan kayu jati tersebut sebelumnya diberi judul “Pencerah Batin”. Menurutnya, selain identitas dan judul, terdapat perubahan pada bagian bentuk karya yang dipamerkan di museum.

“Karyanya yang waktu di Tahir itu sudah dirubah, yang awalnya ada genggaman tangan di atas itu kan sebenarnya ada tambahan ornamen di situ yang memang itu berfungsi, karena di situ ada terapan sistem cahaya dari kap itu. Tak bikin sistem knockdown. Jadi entah itu rusak atau cuma dilepas ya enggak tahu, karena saya belum ketemu sama karyanya juga sampai sekarang,” ujar Junian.

Ia mengatakan, karya tersebut terakhir diketahuinya berada di depan ruang dosen Program Studi Kriya ISI Solo setelah diluncurkan untuk mengikuti pameran kolaborasi kriya seni dengan Barata Sena di Ruang Seni Daya Joeang Solo pada 2016.

Junian mengaku tidak mendapat pemberitahuan dari pihak ISI Solo mengenai rencana karya tersebut dipamerkan di Tahir Solo Museum. Ia juga mempertanyakan perubahan judul, konsep, dan identitas yang tercantum pada karya tersebut.

“Kalau karya itu diatasnamakan prodi atau jurusan yang memang dari Kriya lah misalnya, itu enggak masalah sebenarnya. Tapi kalau diklaim untuk personal dan dirubah semuanya seperti itu, nah itu yang sangat mengecewakan,” jelasnya.

Junian juga menanggapi klarifikasi yang menyebut persoalan tersebut terjadi karena kesalahan input atau pengolahan data. Menurutnya, perubahan tidak hanya terjadi pada nama pembuat, tetapi juga judul dan konsep karya.

“Maksudnya kalau memang itu salah data kan berarti karyanya dia juga ada di situ dan namaku juga ada di situ, lah itu mungkin kan tertukar gitu. Tapi kan ini juga enggak ada,” katanya.

Sementara itu, Operational Manager Tahir Solo Museum Darryl Yusuf Putra menjelaskan, keberadaan karya tersebut di museum merupakan bagian dari kerja sama dengan ISI Solo. Kerja sama tersebut berupa penyelenggaraan pameran secara berkala dengan pergantian tema setiap tiga bulan.

“Kerjasama dengan ISI Solo berupa penyelenggaraan pameran secara berkala setiap tiga bulan berganti tema pameran. Karya bisa berada di museum karena terpilih kurasi oleh pihak museum sejak bulan Juli 2026,” ujar Darryl.

Darryl mengatakan, Tahir Solo Museum menentukan tema pameran, sedangkan ISI Solo mengajukan sejumlah karya yang kemudian dipilih oleh kurator museum. Menurutnya, proses pendataan mengalami kesalahan karena waktu persiapan pameran yang relatif singkat.

“Setelah kurator memilih di mana kebetulan waktu itu sangat pendek satu minggu sebelum museum opening maka ada kesalahan dalam pendataan yang dilaksanakan dari tim teknis dari ISI,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesalahan tersebut berlanjut karena tidak dilakukan pengecekan ulang terhadap data dan karya yang ditampilkan di ruang pamer. Darryl menyebut pihak ISI Solo kemudian melakukan klarifikasi setelah muncul informasi mengenai persoalan identitas karya tersebut.

“Padahal yang terjadi adalah karya tersebut merupakan karya alumni ISI Surakarta, yang sudah bertahun-tahun disimpan di kantor Program Studi Kriya ISI Solo, karena dipilih kurator dari museum maka ikut dipamerkan di museum,” imbuhnya.

Darryl mengatakan, karya tersebut masih dipajang di Tahir Solo Museum dengan keterangan atau caption ID yang telah diperbaiki sesuai identitas pemilik karya.

Sementara itu, melalui akun Instagram @kriyaisolo.official, ISI Solo menyampaikan permohonan maaf kepada Junian Akbar Afero atas kesalahan caption ID pada karya yang dipamerkan. ISI Solo menyebut karya tersebut semestinya berjudul “Pencerah Batin” karya Junian Akbar A., namun sebelumnya terpasang keterangan “Refleksi Kehormatan Jiwa” karya Cerly Sudarta.

Dalam klarifikasinya, panitia pameran menyebut kesalahan caption ID tersebut telah diperbaiki sesuai identitas karya yang semestinya. Panitia juga menyatakan persoalan tersebut merupakan kesalahan atau bercampurnya data dalam proses seleksi karya dan bukan kesalahan Cerly Sudarta. (Ryan Assyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....