Tolak Geothermal Lawu dan Ungaran, 29 Pelari Siap Estafet 150 Km ke Semarang
- 21 Sep 2026 21:17 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Aksi penolakan terhadap rencana pengembangan panas bumi (geothermal) di Jawa Tengah kembali disuarakan melalui cara unik. Sebanyak 29 pelari disiapkan menempuh jarak sejauh 150 kilometer secara estafet dari Kabupaten Karanganyar menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang demi membawa pesan solidaritas penyelamatan kawasan Gunung Lawu dan Gunung Ungaran.
Aksi lari yang melintasi sejumlah daerah ini tengah difinalisasi oleh para peserta bersama koordinator aksi, Sigit Pinjal. Berdasarkan pendataan awal, empat pelari direncanakan berlari secara penuh (full) dari titik awal, sementara 25 pelari lainnya menempuh rute secara berantai.
“Yang full 150 km sementara empat. Yang lain estafet Karanganyar-Solo, Solo-Boyolali, Boyolali-Ungaran, seterusnya,” ujar Koordinator Aksi, Sigit Pinjal, Senin 21 September 2026.
Empat pelari yang menempuh jarak penuh akan memulai start dari Pintu Bancolono, Cemoro Kandang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Sementara itu, 25 pelari estafet lainnya akan menyambung jalur dari titik start kota atau kabupaten masing-masing hingga estafet tersambung utuh menuju Semarang.
Sigit menyebut kepastian daftar lengkap nama peserta, pembagian etape, serta teknis keberangkatan masih terus dimatangkan melalui koordinasi lintas wilayah.
“Belum pasti, nanti malam baru koordinasi terakhir,” kata Sigit.
Isu pengembangan panas bumi sendiri tengah menjadi sorotan hangat di Jawa Tengah. Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan bahwa proyek panas bumi Gunung Ungaran masih dalam tahap eksplorasi dan studi kelayakan dengan mempertimbangkan kajian lingkungan serta cagar budaya Candi Gedong Songo.
Sementara untuk Gunung Lawu, Kementerian ESDM menyebut status WKP telah dihapus sejak 2023, namun wilayah Jenawi dialokasikan sebagai lokasi alternatif Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE).
Perbedaan sudut pandang inilah yang mendorong gerakan masyarakat menyuarakan penolakan demi menjaga kelestarian lingkungan, budaya, dan kawasan sakral di kawasan Lawu maupun Ungaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....