Stunting Solo 7,52 persen, Posyandu Perkuat Pencegahan
- 18 Sep 2026 21:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID , Surakarta - Sebanyak 1.391 balita di Kota Surakarta teridentifikasi mengalami stunting, dari total 18.499.000 balita yang diukur dan ditimbang pada Agustus 2026. Angka tersebut setara dengan 7,52 persen. Meski masih berada di bawah angka nasional 19, 9 persen dan Jawa Tengah 17, 7 persen, Pemerintah Kota Surakarta terus memperkuat pencegahan dan penanganan stunting melalui Posyandu.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Yusuf Bakhtiar mengatakan, pencegahan stunting dilakukan sejak dari hulu, bahkan sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Upaya tersebut dimulai dari remaja putri melalui pencegahan anemia dan konsumsi tablet tambah darah. Selanjutnya, pasangan usia subur didorong menjalani skrining layak hamil, kemudian pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Sementara setelah anak lahir, Posyandu menjadi salah satu garda terdepan untuk memantau pertumbuhan. Kader melakukan penimbangan berat badan serta pengukuran tinggi atau panjang badan secara rutin. Jika ditemukan gangguan pertumbuhan, hasilnya segera dikoordinasikan dengan tenaga kesehatan Puskesmas yang hadir dalam pelayanan Posyandu. Kasus yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dapat ditangani di Puskesmas maupun dirujuk ke rumah sakit.
“ Kita setiap ada Posyandu ada Nakes Puskesmas yang ada di situ. Yang otomatis segera langsung mengetahui dan ketika memerlukan untuk rujukan sudah langsung kita koordinasi. baik ke Puskesmas Pembantu maupun ke Puskesmas ,”ujar Yusuf Bakhtiar saat dialog interaktif di RRI Kamis 17 September 2026.
Dr. Yusuf menegaskan, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan. Faktor lain seperti pola makan dan pola asuh, kecukupan protein, air bersih, sanitasi, kondisi rumah, serta lingkungan yang sehat juga harus diperhatikan. Karena itu, penanganan stunting membutuhkan intervensi yang dilakukan secara simultan dan melibatkan berbagai pihak.
Penguatan pencegahan tersebut dilakukan melalui konsep Posyandu Plus di Kota Surakarta. Posyandu kini tidak hanya melayani kelompok tertentu, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan masyarakat. Selain enam standar pelayanan minimal, Posyandu Plus memiliki tambahan layanan kesehatan mental. Konsep inilah yang disebut menjadi salah satu alasan Posyandu Kota Surakarta menjadi percontohan nasional. Bahkan, sejumlah daerah telah datang ke Solo untuk mempelajari dan menerapkan praktik tersebut.
“Jadi tidak saja sekedar melayani 6 SPM namun juga dia ada plusnya yakni terkait dengan kesehatan mental. Dan inilah salah satu yang tentunya membuat menjadi percontohan nasional karena ini satu-satunya yang ada di Indonesia dan dan sekarang sudah banyak yang kunjungan ke Kota Solo dan kemudian meng-apply atau mengambil contoh ini sebagai bentuk praktik baik, ujar Yusuf Bakhtiar lebih lanjut .
Kualitas kader juga menjadi bagian penting dalam pelayanan. Kader Posyandu di Kota Surakarta telah dibekali 25 kompetensi sesuai dengan Kementerian Kesehatan. Keterampilan tersebut mencakup pelayanan bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, anak usia sekolah dan remaja, hingga usia produktif dan lansia.
Saat ini, layanan Posyandu tersedia di 636 titik di Kota Surakarta. Dinas Kesehatan mengajak masyarakat memanfaatkan layanan tersebut secara rutin, karena pemeriksaan sejak dini memungkinkan gangguan pertumbuhan maupun masalah kesehatan lainnya segera diketahui dan ditindaklanjuti.( Lidia )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....