Firasat Pelukan Terakhir Ahda Sebelum Musibah Kapal Virgo

  • 18 Sep 2026 02:16 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Momen perpisahan yang tak biasa masih teringat jelas di ingatan Bahri sebelum putra tercintanya, Ahda Dhiyaurohman, berangkat merantau hingga akhirnya dikabarkan hilang dalam insiden tenggelamnya Kapal Motor Virgo Transport. Sebelum melangkah pergi meninggalkan rumahnya di Dusun Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Ahda sempat memberikan pelukan erat yang kini dirasakan sang ayah sebagai firasat perpisahan.

Ayah korban, Bahri, mengenang kembali gestur hangat sang anak yang tidak pernah dilakukan pada hari-hari biasa sebelum keberangkatannya tersebut.

"Biasanya kalau mau pergi ya cuma pamitan dan salim biasa. Tapi hari itu dia meluk saya lama sekali dan minta doa restu. Saya tidak menyangka itu jadi pelukan terakhir sebelum dapat kabar kapal yang ditumpanginya musibah," kenang Bahri dengan suara bergetar, Kamis 17 September 2026.

Selain kenangan pelukan hangat tersebut, keluarga juga sempat menerima unggahan video singkat dari Ahda saat berada di dermaga Pelabuhan Semarang sebelum kapal lepas landas. Dalam video tersebut, tampak rambut Ahda sudah dipotong gundul sesuai instruksi pihak penyalur kerja.

"Dia sempat kirim video suasana dermaga dan bilang kalau kapalnya sudah mau jalan. Setelah video itu masuk, nomor teleponnya sudah tidak bisa dihubungi lagi sampai sekarang," kata Bahri.

Di balik musibah ini, keputusan Ahda merantau berawal dari informasi lowongan pekerjaan di perkebunan kelapa sawit Kalimantan yang ia temukan melalui media sosial TikTok. Tergiur iming-iming pekerjaan untuk mandiri dan tidak membebani orang tua, pemuda yang tengah menempuh pendidikan kesetaraan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) ini nekat berangkat meski tanpa restu penuh dari sang ayah.

Prosedur keberangkatan terkesan sangat agresif dan terburu-buru. Setelah mendaftar secara daring, Ahda langsung diarahkan mendatangi sebuah agensi penampungan di Semarang, di mana seluruh rambutnya digundul sebelum diberangkatkan menggunakan kapal kayu KM Virgo Transport.

Kabar tenggelamnya kapal tersebut membuat keluarga sempat kebingungan karena nama Ahda tidak tercantum dalam daftar manifes resmi awal. Pihak keluarga kemudian berinisiatif melacak keberadaan korban secara mandiri dengan mendatangi markas kepolisian dan instansi terkait. Kepastian baru didapat setelah Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengonfirmasi bahwa Ahda resmi terdaftar sebagai salah satu penumpang dalam manifes pelayaran nahas tersebut.

Di tengah ketidakpastian proses pencarian di perairan laut, pihak keluarga dan kerabat di Dusun Ngringo terus menggelar doa bersama di rumah duka. Bahri dan keluarga menyimpan harapan penuh agar keajaiban datang dan tim SAR gabungan dapat menemukan Ahda dalam kondisi selamat.

"Harapan kami sebagai orang tua tentu ingin Ahda bisa pulang dengan selamat. Kami tidak akan berhenti berdoa dan berharap ada keajaiban sampai ada kabar pasti dari tim SAR di lapangan," ucap Bahri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....