Petani Masaran Tewas Ditusuk Tetangga Pasca Ribut Irigasi, P3A Buka Suara

  • 16 Sep 2026 22:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Masaran Sragen akhirnya memberikan klarifikasi terkait insiden berdarah yang menewaskan Sadimin, 68, akibat perselisihan irigasi sawah di Kecamatan Masaran. Pihak P3A menegaskan bahwa tata kelola dan distribusi air di wilayah tersebut sebenarnya berjalan normal tanpa ada laporan konflik antarpetani.

Ketua P3A Kecamatan Masaran, Purwito, mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan rutin serta laporan dari para petugas lapangan di setiap blok, sistem pengairan di daerahnya selama ini telah teratur dengan baik.

"Dari hasil pantauan saya serta laporan dari tiap-tiap petugas lapangan di wilayah atau blok masing-masing, sampai saat ini tidak ada masalah. Saya juga tidak mendapat laporan atau mendengar dari petugas yang ada di wilayah terkait adanya perselisihan tersebut," ujar Purwito saat dikonfirmasi Selasa 15 September.

Dia menjelaskan, potensi gesekan antar petani sejatinya sudah diminimalisasi karena setiap blok persawahan telah memiliki petugas lapangan khusus yang bertugas membagi jatah air secara bergantian.

Mengenai kondisi pasokan air di tengah musim kemarau panjang saat ini, Purwito tak menampik adanya penurunan debit air. Meski begitu, ia memastikan ketersediaan air untuk lahan pertanian di Masaran masih dalam rentang batas aman.

"Kalau debit air memang berkurang karena ini musim kemarau, tapi statusnya masih aman," ujar dia.

Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari mendesak dinas terkait dan pemerintah desa untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengatur pembagian air irigasi guna mencegah konflik horizontal antarwarga.

Dalam konferensi pers di Mapolres Sragen pada Senin 14 September 2026 siang, dengan didampingi Kasat Reskrim AKP Catur Agus Yudho Praseno dan Kasi Humas AKP Slamet, Kapolres menggarisbawahi sensitivitas persoalan pengairan di musim kemarau.

"Kami dari Polres Sragen mengimbau kepada dinas terkait dan juga para pemuka serta pamong desa, di mana saat ini sedang musim kemarau tentu banyak masyarakat kita yang mengalami kesulitan, terutama para petani, dalam hal pengairan sawahnya. Dan ini merupakan hal yang sensitif bagi para petani," kata AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.

"Oleh karena itu, agar hal ini menjadi perhatian serius dari dinas terkait dan pemangku kebijakan untuk ke depannya lebih dilakukan mitigasi secara maksimal serta pengaturan sedemikian rupa terkait pengairan ini demi menghindari konflik horizontal," kata AKBP Dewiana lebih lanjut.

Menanggapi imbauan dari pihak kepolisian agar mitigasi konflik irigasi lebih ditingkatkan, P3A Kecamatan Masaran berjanji akan memperketat pengawasan di lapangan. Koordinasi intensif bersama para petugas pembagi air di setiap blok bakal terus dilakukan agar distribusi air tetap berkeadilan.

"Sebenarnya kalau antisipasi masalah air sudah kita sampaikan sejak dini. Agar hal serupa tidak terulang lagi, saya berkoordinasi dengan petugas lapangan di masing-masing blok agar lebih bijak lagi dalam pengaturan air," ucap Purwito.

Sebelumnya, peristiwa tragis menimpa Sadimin yang tewas usai ditikam 10 kali tusukan senjata tajam oleh tetangganya sendiri, S (35). Aksi nekat tersangka dipicu rasa sakit hati dan dendam setelah keduanya terlibat cekcok terkait pengalihan saluran air irigasi pada Sabtu 12 September lalu. Kasus tersebut kini tengah ditangani intensif oleh jajaran Satreskrim Polres Sragen. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....