Dapur Batari Dorong UMKM Solo Naik Kelas Lewat Makanan Siap Santap
- 16 Sep 2026 11:37 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Dapur Koperasi Batik Batari Surakarta mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Solo naik kelas melalui pengembangan produk makanan siap santap atau ready to eat. Fasilitas tersebut membantu UMKM mengolah makanan lokal menjadi produk kemasan dengan masa simpan lebih panjang dan berpeluang dipasarkan ke luar daerah.
Pengelola Dapur Koperasi Batik Batari, Luluk Mahmudah, mengatakan usaha pengolahan makanan siap santap tersebut telah beroperasi sekitar dua tahun. Pengembangan dapur awalnya diarahkan untuk mengangkat makanan khas Solo dan daerah lain agar dapat dinikmati masyarakat di luar daerah, termasuk membuka peluang pasar luar negeri.
Menurut Luluk, Dapur Batari kemudian membuka layanan bagi UMKM yang ingin memproduksi makanan dengan dukungan peralatan pengolahan dan pengemasan yang tersedia. Layanan tersebut mencakup peralatan memasak, pengemasan, mesin sealing, hingga proses sterilisasi.
“UMKM bisa masuk ke sini dan memproduksi makanan di sini. Kami menyediakan peralatannya, mulai dari kompor, packaging, mesin sealing, hingga sterilisasi,” ujar Luluk.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah sterilisasi dengan autoclave pada suhu 121 derajat Celsius selama 30 menit. Proses tersebut dilakukan untuk membunuh mikroba seperti bakteri, virus, jamur, hingga spora resisten sehingga produk dapat bertahan hingga satu tahun tanpa menggunakan bahan pengawet.
Setelah proses sterilisasi, produk didinginkan menggunakan kolam es sebelum dikemas kembali dengan standing pouch atau kemasan kertas grenjeng berwarna perak. Pengemasan tersebut ditujukan agar produk lebih menarik sekaligus mudah dipasarkan.
Luluk menyebut sejumlah UMKM telah memanfaatkan jasa Dapur Batari, di antaranya produsen gudeg koyor, sambal cumi, dan bebek Solo. Hingga kini, jumlah UMKM yang telah menggunakan layanan tersebut masih di bawah 100 pelaku usaha.
“Misalnya bebek Solo yang biasanya hanya bisa dibawa dalam bentuk gorengan, dengan proses ini produknya bisa dibawa keluar kota dalam kondisi masih ungkep,” kata Luluk.
Untuk jasa pengolahan, biaya yang dikenakan sekitar Rp4.000 per pouch, dengan kapasitas minimal produksi sekitar 150 kemasan dalam satu kali proses. Kapasitas tersebut menyesuaikan kemampuan autoclave yang memiliki enam tray.
Dapur Batari saat ini telah memproduksi sekitar 50 jenis makanan dan juga mengembangkan bumbu masakan instan dengan konsep one stop cooking. Produk tersebut antara lain bumbu nasi goreng dan bumbu masakan khas Jawa, sedangkan seluruh produk yang diproses dan dipasarkan memenuhi persyaratan keamanan pangan, sertifikasi halal, dan perizinan BPOM. (SIFA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....