Abu Vulkanik Krakatau Ancam Aviasi, Pakar Desak Solusi Kontingensi
- 08 Sep 2026 16:08 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau belakangan ini dinilai sebagai proses alamiah, namun material abu vulkaniknya kian mengancam rute penerbangan. Ketiadaan hujan selama musim kemarau membuat debu halus tersebut terus melayang bebas dan membahayakan keselamatan sistem aviasi.
Pakar geofisika dan mitigasi bencana, Surono, menjelaskan Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang baru muncul ke permukaan laut pada tahun 1930.
Aktivitas erupsi yang meningkat secara intensif saat ini merupakan kodrat alamiah bagi gunung tersebut untuk menumpuk material vulkanik di sekitar puncak demi meninggikan postur tubuhnya.
Seiring berjalannya waktu, tubuh Gunung Anak Krakatau yang semakin besar membuatnya mampu menghasilkan kolom letusan abu yang menjulang jauh lebih tinggi ke angkasa.
Kondisi ini memicu ancaman serius baru karena musim kemarau panjang membuat material abu vulkanik yang sangat halus terbang tanpa segera luruh ke tanah.
"Sialnya sekarang tidak ada hujan, jadi abunya tidak turun-turun dan terbang ke mana-mana, piknik terus ini. Abunya didorong angin ke sana, didorong lagi ke sini hingga menjauh ke arah Samudra Hindia," ujar Surono kepada wartawan dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa, 8 September 2026.
Pria yang akrab disapa Mbah Rono tersebut menegaskan, bagi armada maskapai udara komersial, terjangan debu mikro yang melayang ini merupakan ancaman mematikan yang tidak bisa disepelekan.
Serpihan abu vulkanik tersebut dapat tersedot langsung masuk dan menyumbat pasokan oksigen pada sistem pembakaran mesin jet pesawat, sehingga memicu kondisi gagal mesin mendadak di udara.
"Kita tidak bisa menghalangi alam, yang bisa kita lakukan adalah membuat rencana kontingensi. Misalnya, ke mana penerbangan harus dialihkan jika Cengkareng tertutup abu, apakah ke Kertajati? Rencana seperti ini sudah harus ada," katanya.
Mengingat wilayah Bandara Internasional Soekarno-Hatta berada persis dalam jangkauan persebaran angin dari kawasan Selat Sunda, otoritas pengatur penerbangan dituntut segera menyiagakan skenario darurat penuh.
Langkah preventif pengalihan rute cadangan ini wajib disiagakan sedini mungkin guna mencegah tragedi kecelakaan pesawat maupun kelumpuhan transportasi. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....